loading...
Tim pelaksana PKM Multi Disiplin Universitas Trisakti dengan Kepala Desa Wangunjaya, perangkat desa, dan peserta kegiatan.
Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Trisakti ke-60, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trisakti melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Multi Disiplin di Desa Wangunjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada 15 November 2025. Kegiatan ini melibatkan dua tim pelaksana dari berbagai fakultas dan dihadiri oleh 14 peserta yang terdiri dari Kepala Desa Wangunjaya, staf desa, anggota BUMDes, anggota Koperasi Merah Putih, serta perwakilan Karang Taruna. Kehadiran para peserta menggambarkan antusiasme desa terhadap upaya pengembangan kapasitas masyarakat yang dilaksanakan atas kolaborasi antara akademisi, masyarakt, dan perangkat desa. PKM di Wangunjaya menjadi bagian dari rangkaian besar kegiatan yang dikoordinasikan dan didanai oleh LPPM Universitas Trisakti sebagai implementasi Tridharma Perguruan Tinggi dan dukungan terhadap pencapaian SDGs Desa.
Tantangan ketahanan pangan keluarga menjadi peluang bagi warga untuk dapat memproduksi sumber protein secara mandiri guna memenuhi kebutuhan harian. Desa Wangunjaya dikenal sebagai wilayah pertanian penghasil singkong. Dengan hasil pertanian tersebut, ditemukan limbah kulit singkong yang belum dimanfaatkan secara optimal dan kerap menjadi masalah lingkungan. Permasalahan tersebut menjadi dasar pelaksanaan dua program utama PKM di Wangunjaya.
Tim pertama diketuai oleh Ardilla Jefri Karista, dari Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), bersama anggota dosen Fransisca Chondro (Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran), Christina Sari (Teknik Sipil, FTSP), serta dibantu mahasiswa Eliazer Jamindo Mantab dan Hayden Sen Nataprawira (Arsitektur, FTSP).
Tim ini menyampaikan materi mengenai pemenuhan protein hewani harian dan inovasi desain kandang ayam semi-umbaran yang ramah lingkungan. Edukasi ini berangkat dari kebutuhan warga akan sumber protein hewani yang terjangkau, sekaligus permasalahan kandang ayam konvensional yang menimbulkan bau, limbah, dan kurang efisien.
Melalui inovasi sistem bio-kompos otomatis berbahan material lokal seperti bambu dan daun kering, tim memperkenalkan desain kandang yang mampu mengurangi bau lebih dari 70 persen, menghasilkan kompos organik, serta meningkatkan kenyamanan ayam sehingga produksi telur lebih stabil. Pendekatan arsitektural berbasis permaculture, pemanfaatan material lokal, serta pengaturan ruang sesuai perilaku alami ayam menjadi bagian penting dari IPTEKS yang diterapkan.


















































