PLTS 4,4 kWp Dorong Kebun Hidroponik KWT Wahid Sapa Cilegon, Program CSR Pertamina Tembus 30 Anggota

7 hours ago 6

Ringkasan Berita

  • KWT Wahid Sapa di Cilegon mengembangkan kebun hidroponik berbasis PLTS 4,4 kWp.
  • Program “KreaSea Tumbuh” merupakan CSR PT Pertamina Energy Terminal melalui Terminal LPG Tanjung Sekong.
  • PLTS mampu menekan emisi hingga 1,75 ton CO2 eq per tahun.
  • Jumlah anggota meningkat dari 9 menjadi 30 orang sejak 2023.
  • Program mendukung target Net Zero Emission 2060 dan implementasi ESG Pertamina.

Cilegon (pilar.id) – Aktivitas produktif tumbuh di tengah permukiman Kapling Baru 2, Kecamatan Pulau Merak, Kota Cilegon. Sekelompok ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa mengembangkan kebun hidroponik berbasis energi terbarukan sebagai sumber pangan sekaligus tambahan pendapatan keluarga.

Program bertajuk “KreaSea Tumbuh” ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Pertamina Energy Terminal melalui Terminal LPG Tanjung Sekong. Inisiatif tersebut menjadi implementasi pilar Green Terminal yang memadukan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan sosial secara terintegrasi.

Manfaatkan PLTS, Tekan Emisi Karbon

Sebagai bagian dari komitmen ramah lingkungan, rumah hidroponik KWT Wahid Sapa kini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp. Energi surya menggantikan sumber listrik berbasis fosil untuk mendukung operasional pompa dan sistem tanam.

Pemanfaatan PLTS tersebut diperkirakan mampu menekan emisi hingga 1,75 ton CO2 ekuivalen per tahun. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Terminal LPG Tanjung Sekong dalam proses menuju sertifikasi Green Terminal.

Tak hanya dari sisi energi, perbaikan teknis juga dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Permasalahan aliran air yang sebelumnya tidak stabil diatasi dengan pemasangan tangki tekan air guna menjaga suplai ke rak tanaman. Selain itu, pipa instalasi dilengkapi double wall insulation agar terlindungi dari lumut dan menjaga aliran tetap optimal.

Intervensi tersebut mengubah pola pertanian rumah tangga yang semula berjalan sederhana menjadi sistem operasional yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dari Uji Coba ke Sumber Pendapatan

Sejak pembangunan rumah hidroponik pada September 2024, kegiatan yang awalnya bersifat uji coba berkembang menjadi aktivitas rutin. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, hasil panen kini mulai memberikan tambahan pendapatan bagi anggota.

Jumlah partisipan meningkat signifikan, dari sembilan orang pada 2023 menjadi 30 anggota saat ini. Program ini juga melibatkan kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH), lansia, serta pengangguran usia produktif melalui pelatihan keterampilan.

Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati, menyampaikan bahwa dukungan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina membuat sistem budidaya menjadi lebih tertata dan produktivitas panen meningkat. Ia menilai manfaat yang dirasakan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga peningkatan kapasitas anggota dalam mengelola pertanian modern.

Hasil panen sayuran bahkan telah memiliki pelanggan tetap. Salah satu warga, Mariana, mengaku rutin membeli setiap masa panen karena kualitas dinilai baik dan harga lebih terjangkau dibanding pasar. Permintaan yang meningkat mendorong harapan agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.

Ke depan, KWT Wahid Sapa menargetkan pengembangan komoditas, tidak hanya sayuran tetapi juga budidaya buah, guna memperluas potensi ekonomi kelompok.

Dukung Net Zero Emission 2060 dan SDGs

Program KreaSea Tumbuh menjadi bagian dari transformasi keberlanjutan yang dijalankan PT Pertamina (Persero) dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG), perusahaan mendorong operasional terminal yang selaras dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Sinergi antara teknologi energi bersih dan penguatan kapasitas warga di Pulau Merak ini menunjukkan bahwa aktivitas industri dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan sosial berbasis komunitas. (ren)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |