Gresik (pilar.id) – Pembangunan pabrik kimia milik PT Geabh Joint Technology di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Kabupaten Gresik, menjadi sinyal kuat percepatan hilirisasi industri di Jawa Timur. Proyek bernilai sekitar USD 600 juta atau setara Rp5,4 triliun ini diproyeksikan memperkuat struktur industri kimia nasional sekaligus meningkatkan daya saing daerah di tingkat global.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas industri, tetapi bagian dari strategi besar membangun ekosistem industri yang terintegrasi dan bernilai tambah tinggi. Menurutnya, kehadiran investasi ini memperkuat rantai pasok kimia dari hulu ke hilir sehingga lebih efisien dan kompetitif.
Proyek bertajuk Phase I of the 120,000 TPA Melamine Industrial Chain Project ini menargetkan mulai beroperasi pada kuartal II tahun 2027. Pada tahap awal, kapasitas produksi meliputi 800 ton amonia per hari, 200 ton melamin per hari, serta 1.500 ton urea per hari. Produk-produk tersebut merupakan bahan baku penting bagi berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur hingga pertanian.
Investasi ini juga mencerminkan kepercayaan investor global terhadap iklim usaha di Jawa Timur. Struktur kepemilikan proyek terdiri dari 80 persen Sichuan Golden Elephant, 10 persen AICA Asia Pacific, dan 10 persen Aaronstone Chemtech. Kolaborasi lintas negara tersebut mempertegas posisi Jawa Timur sebagai destinasi investasi strategis di Indonesia.
Keunggulan lokasi di KEK JIIPE menjadi faktor kunci dalam mendukung efisiensi operasional. Kawasan ini terintegrasi dengan pelabuhan dan fasilitas industri lainnya, sehingga mampu memangkas biaya logistik sekaligus memperkuat konektivitas rantai pasok nasional maupun global. Selain itu, pabrik ini dirancang menggunakan teknologi generasi terbaru yang lebih hemat energi, memenuhi standar keselamatan tinggi, serta mendukung prinsip industri ramah lingkungan.
Pengembangan ke depan bahkan membuka peluang produksi bahan strategis lain, seperti material baterai lithium dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang semakin relevan dengan tren industri masa depan berbasis energi bersih dan berkelanjutan.
Dari sisi dampak ekonomi, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal, khususnya di wilayah Gresik dan sekitarnya. Kehadiran industri skala besar juga diyakini akan mendorong pertumbuhan sektor pendukung, termasuk logistik, jasa, dan UMKM.
Kinerja ekonomi Jawa Timur sendiri menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,33 persen, melampaui rata-rata nasional. Sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 31,64 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sementara itu, realisasi investasi mencapai Rp145,1 triliun, memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha guna memastikan investasi berjalan optimal, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan masuknya proyek ini, Jawa Timur semakin optimistis memperkokoh perannya sebagai pusat industri kimia terintegrasi sekaligus pemain penting dalam rantai pasok global.
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir dalam seremoni peletakan batu pertama ini, di antaranya Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, serta perwakilan pemerintah dan pelaku industri dari dalam dan luar negeri.

8 hours ago
5

















































