Trump Tunda Serangan ke Iran Dua Pekan, Ketegangan Global Mereda Meski Sementara

6 hours ago 8

Ringkasan Berita

  • Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke Iran selama dua pekan.
  • Pakistan berperan sebagai mediator melalui PM Shehbaz Sharif dan Jenderal Asim Munir.
  • Iran bersedia membuka Selat Hormuz secara terbatas dan menghentikan operasi defensif.
  • Konflik telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran sejak akhir Februari.
  • Ketidakpastian masih tinggi, terutama terkait sikap Israel dan kelanjutan gencatan senjata.

Washington DC (pilar.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan menunda rencana serangan militer terhadap Iran hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui platform Truth Social pada Selasa malam waktu AS, setelah sebelumnya Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa “sebuah peradaban bisa musnah dalam satu malam”.

Keputusan ini diambil setelah komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Asim Munir, yang meminta penundaan aksi militer.

Namun, penangguhan tersebut memiliki syarat utama: Iran harus membuka kembali akses Selat Hormuz secara aman dan segera.

Iran Setujui Gencatan Sementara

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi adanya kesepakatan awal. Ia menyatakan bahwa Iran akan menghentikan operasi militer defensif jika serangan terhadap negaranya dihentikan.

Selama dua pekan ke depan, Iran membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan koordinasi militer, meski tetap mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas AraghchiMenteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi

Pemerintah Iran juga membuka peluang perpanjangan gencatan senjata jika negosiasi lanjutan berjalan positif. Pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Global

Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik ini. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan langsung berdampak pada harga energi global.

Sejak konflik pecah, Iran sempat membatasi lalu lintas di selat ini, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Tekanan domestik terhadap Trump meningkat, bahkan dari basis politiknya sendiri, akibat kenaikan harga energi.

Konflik Memakan Ribuan Korban

Perang yang berlangsung lebih dari lima minggu sejak 28 Februari—melibatkan AS, Israel, dan Iran—telah menimbulkan korban besar:

  • Sekitar 2.076 orang tewas di Iran
  • 28 korban di negara Teluk
  • 13 tentara AS gugur
  • 26 korban di Israel

Serangan terhadap infrastruktur sipil yang sempat diancam Trump juga menuai kritik luas dari pakar hukum internasional yang menilai hal tersebut berpotensi melanggar hukum perang.

Ketidakpastian Masih Membayangi

Meski penundaan disambut sebagai “angin segar”, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya jelas. Pengamat menyoroti bahwa keberhasilan gencatan senjata sangat bergantung pada sikap Israel dan kelompok sekutunya di kawasan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mendukung operasi militer terhadap Iran, dengan alasan ancaman nuklir.

Analis geopolitik juga menilai bahwa tekanan AS terhadap Israel akan menjadi faktor penentu apakah konflik benar-benar mereda atau justru kembali meningkat.

Peluang Damai atau Sekadar Penundaan?

Trump menyebut bahwa sebagian besar poin sengketa dengan Iran telah menemukan titik temu, termasuk proposal 10 poin yang diajukan Teheran sebagai dasar negosiasi.

Namun, sejumlah pengamat menilai langkah ini lebih sebagai penundaan strategis ketimbang solusi permanen.

Dengan ketegangan tinggi, kepentingan geopolitik, dan dinamika aliansi regional, dua pekan ke depan akan menjadi fase krusial dalam menentukan arah konflik Timur Tengah—apakah menuju perdamaian jangka panjang atau eskalasi baru. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |