Prakiraan Cuaca Indonesia 18–24 September 2026: El Niño Sangat Kuat, Hujan Lokal dan Karhutla Perlu Diwaspadai

6 hours ago 3

Jakarta (pilar.id) – Prakiraan cuaca Indonesia periode 18–24 September 2026 menunjukkan kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah, seiring pengaruh El Niño kategori sangat kuat. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat tetap berpotensi terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer yang aktif di sejumlah kawasan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kondisi atmosfer yang kering, termasuk ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta potensi cuaca ekstrem di wilayah tertentu.

Pengaruh El Niño yang sangat kuat, bersamaan dengan musim kemarau, menyebabkan atmosfer Indonesia cenderung kering, tutupan awan relatif minim, dan suhu permukaan meningkat. Sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan juga mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi tersebut tercatat di berbagai kawasan, meliputi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, serta Papua Selatan.

Kondisi kering yang meluas berpotensi meningkatkan risiko karhutla dan penyebaran kabut asap. Berdasarkan pemantauan satelit pada 7–16 September 2026, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terdeteksi di Kalimantan Tengah sebanyak 3.177 titik. Selanjutnya, Sumatra Selatan mencatat 1.305 titik, Kalimantan Barat 1.088 titik, dan Papua Selatan 960 titik.

Meskipun kemarau masih menjadi kondisi dominan, hujan lebat tetap terjadi di sejumlah wilayah. Pada 14–16 September 2026, curah hujan harian tertinggi tercatat di Aceh dan Sumatra Barat, masing-masing mencapai 138 milimeter per hari. Hujan juga terpantau di Kalimantan Utara sebesar 83 milimeter per hari, Sumatra Utara 61 milimeter per hari, dan Papua 56 milimeter per hari.

BMKG menjelaskan, hujan yang masih muncul di tengah musim kemarau dipengaruhi aktivitas sejumlah fenomena atmosfer. Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di sekitar Sumatra bagian utara dan Kalimantan bagian utara, sedangkan Gelombang Kelvin melintasi sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian utara hingga tengah, serta Papua bagian utara.

Dinamika tersebut diperkuat oleh keberadaan daerah pertemuan dan belokan angin di beberapa wilayah Indonesia. Kombinasi kondisi ini dapat mendukung pertumbuhan awan hujan dan memicu hujan dengan intensitas tinggi secara lokal.

Dalam prakiraan untuk periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar Indonesia diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Terbatasnya pasokan uap air, yang antara lain berkaitan dengan pengaruh El Niño sangat kuat, membuat kondisi kering masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah.

Meski demikian, curah hujan di atas 150 milimeter per dasarian diperkirakan berpotensi terjadi di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatra Utara pada Dasarian I dan II Oktober 2026.

Untuk periode 18–24 September 2026, potensi hujan masih terdapat di Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi berlangsung di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat.

Sementara itu, Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara. Fenomena tersebut dapat memberikan dukungan terhadap pembentukan awan hujan.

BMKG juga memprakirakan terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan. Kondisi ini dapat memicu perlambatan dan pertemuan angin yang memanjang di sejumlah wilayah. Ketika diperkuat oleh labilitas atmosfer lokal yang tinggi, proses pengangkatan massa udara berpotensi meningkat sehingga mendukung pembentukan awan hujan.

Pada 18–20 September 2026, cuaca Indonesia secara umum diperkirakan berkisar dari berawan hingga hujan sedang. Peningkatan potensi hujan sedang perlu diwaspadai di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang juga menjadi perhatian. Wilayah dengan tingkat peringatan dini siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat mencakup Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sementara itu, potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua Selatan.

Memasuki 21–24 September 2026, kondisi cuaca secara umum diperkirakan didominasi cerah berawan hingga hujan sedang. Potensi peningkatan hujan sedang perlu diantisipasi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Untuk periode ini, status siaga hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan berlaku di Papua Tengah. Adapun potensi angin kencang diperkirakan terjadi di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Menghadapi kondisi kemarau dan cuaca yang cenderung panas, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah perlindungan terhadap kesehatan dan lingkungan. Penggunaan tabir surya serta pemenuhan kebutuhan cairan tubuh menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko paparan sinar matahari dan dehidrasi, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Masyarakat dan pemerintah daerah juga diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla. BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara pembakaran secara sembarangan, terutama di kawasan rawan terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

Apabila menemukan indikasi titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti. Langkah pencegahan menjadi penting mengingat kondisi atmosfer kering dapat meningkatkan risiko meluasnya kebakaran.

Di sisi lain, dominasi musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah terbebas dari ancaman hujan dan cuaca ekstrem. Hujan ringan hingga sedang yang disertai petir atau angin kencang masih mungkin terjadi secara lokal. Masyarakat perlu mengantisipasi dampak lanjutan, seperti genangan, longsoran material, dan sambaran petir, terutama di wilayah yang mengalami pertumbuhan awan hujan secara cepat.

Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi dapat dipantau melalui laman BMKG di www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial resmi @infobmkg. Pemantauan informasi secara berkala diharapkan membantu masyarakat dan pemangku kepentingan mengambil langkah antisipatif terhadap potensi cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. (mad/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |