Jakarta (pilar.id) – Film Wonder Woman yang dirilis pada 2017 menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam semesta DC Extended Universe (DCEU). Disutradarai Patty Jenkins, film ini memperkenalkan kembali karakter ikonik dari komik DC melalui pendekatan visual dan naratif yang berbeda dari film-film DCEU sebelumnya.
Dibintangi Gal Gadot, film ini menyajikan kisah asal-usul Diana, putri bangsa Amazon dari pulau tersembunyi Themyscira.
Cerita berawal dari kehidupan Diana sebagai prajurit muda hingga akhirnya meninggalkan kampung halamannya setelah seorang pilot Amerika, Steve Trevor yang diperankan Chris Pine, terdampar akibat peperangan yang terjadi pada era Perang Dunia I.
Proses Produksi yang Panjang Sejak 1996
Rencana pembuatan film Wonder Woman sejatinya telah dimulai sejak 1996. Sosok Ivan Reitman pernah disiapkan untuk memproduseri dan bahkan kemungkinan mengarahkan film tersebut.
Sejumlah penulis dan sutradara lain seperti Jon Cohen, Todd Alcott, hingga Joss Whedon juga sempat terlibat dalam tahap pengembangan. Namun proyek tersebut terus tertunda hingga Warner Bros akhirnya mengumumkan versi finalnya pada 2010.
Patty Jenkins resmi ditunjuk sebagai sutradara pada 2015. Ia kemudian mengembangkan cerita berdasarkan karya William Moulton Marston, komik era George Pérez, dan versi New 52. Proses syuting berlangsung antara November 2015 hingga Mei 2016 di berbagai lokasi seperti Inggris, Prancis, dan Italia, dengan tambahan pengambilan gambar pada akhir 2016.
Sinematografer Matthew Jensen bekerja sama dengan Jenkins untuk menciptakan estetika visual yang lebih cerah dan dinamis, berbeda dari tone gelap film DCEU sebelumnya. Inspirasi visual datang dari karya pelukis John Singer Sargent, serta sejumlah komik Wonder Woman dari era 1980-an dan 2000-an.
Proses kreatif untuk menghadirkan Themyscira bahkan membawa tim produksi menjelajah lebih dari 40 negara sebelum menemukan lokasi ideal di pesisir Cilentan, Italia.
Kisah Perang dan Pencarian Jati Diri Diana
Cerita Wonder Woman membawa penonton menyelami perjalanan Diana yang meyakini bahwa konflik global dipicu oleh campur tangan dewa perang,
Ares, yang diperankan David Thewlis. Dalam usahanya menghentikan perang, Diana berhadapan dengan berbagai tokoh kunci seperti Jenderal Erich Ludendorff yang diperankan Danny Huston, serta ilmuwan senjata kimia Dr. Isabel Maru yang diperankan Elena Anaya.
Perjalanan Diana ke dunia manusia turut mengenalkannya pada fenomena sosial, budaya, dan ketidaksetaraan gender yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Interaksinya dengan Steve Trevor dan tim kecilnya—Sameer, Chief, dan Charlie—menjadi bagian penting dalam pembentukan idealisme sang pahlawan.
Visual Memukau Berkat Pendekatan Sinematik Klasik
Patty Jenkins menekankan gaya penceritaan yang terinspirasi dari film superhero klasik ala Richard Donner. Pendekatan ini menghasilkan warna visual yang lebih cerah, penggunaan film 35mm untuk kesan epik, serta adegan laga yang lebih organik.
Salah satu sekuens yang paling dipuji adalah pertempuran di pantai Themyscira. Adegan tersebut disiapkan menggunakan rig kamera khusus untuk menghasilkan gerakan slow motion dramatis tanpa ketergantungan besar pada CGI.
Sementara itu, London digambarkan dengan nuansa biru-keabuan yang mencerminkan suasana perang, namun tetap mempertahankan tone warna yang tidak sepenuhnya desaturasi.
Penerimaan dan Prestasi Box Office
Setelah tayang perdana pada Mei 2017, Wonder Woman mendapat sambutan sangat positif. Film ini dipuji karena penyutradaraan Jenkins, performa Gal Gadot, visual yang kuat, hingga kontribusinya terhadap representasi perempuan dalam film superhero.
Secara global, film ini meraih pendapatan sekitar 824 juta dolar AS, menjadikannya film ke-10 dengan pendapatan tertinggi pada 2017. Wonder Woman juga memegang rekor sebagai film dengan pendapatan tertinggi yang disutradarai seorang perempuan hingga rekor tersebut dilewati film Barbie pada 2023.
Karya ini juga masuk daftar 10 film terbaik tahun 2017 versi American Film Institute dan memenangkan Hugo Award for Best Dramatic Presentation pada 2018.
Kelanjutan dan Pembatalan Sekuel Ketiga
Kesuksesan film pertama melahirkan sekuel berjudul Wonder Woman 1984 yang dirilis pada 2020, kembali digarap oleh Patty Jenkins dan menampilkan Gal Gadot serta sejumlah pemeran utama lainnya. Namun, rencana produksi film ketiga dibatalkan setelah restrukturisasi internal di DC Films yang kemudian berubah menjadi DC Studios pada 2022.
Meskipun demikian, Wonder Woman 2017 tetap dikenang sebagai salah satu film superhero paling berpengaruh, khususnya dalam mengangkat representasi pahlawan perempuan di layar lebar. (ret/hdl)

1 month ago
42

















































