Studi LD FEB UI dan Kredivo Temukan 54 Persen Kredit Digital Digunakan untuk Kebutuhan Produktif

14 hours ago 8

Jakarta (pilar.id) – Sebanyak 54 persen kredit yang disalurkan melalui layanan Kredivo sepanjang 2025 digunakan untuk memenuhi kebutuhan produktif, mulai dari modal usaha, renovasi rumah, pendidikan hingga kesehatan.

Temuan tersebut menjadi bagian dari hasil awal studi dampak sosial dan ekonomi yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group. Studi ini mengkaji peran kredit digital terhadap perluasan akses pembiayaan, perubahan perilaku finansial masyarakat, pemberdayaan UMKM, hingga aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Temuan awal itu memberikan perspektif berbeda terhadap perdebatan mengenai perkembangan industri kredit digital di Indonesia. Selama ini, pertumbuhan layanan kredit digital kerap dikaitkan dengan risiko utang konsumtif. Namun, hasil studi menunjukkan sebagian besar pemanfaatan kredit melalui Kredivo pada 2025 justru berkaitan dengan kebutuhan yang memiliki tujuan produktif maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kajian tersebut dilakukan di tengah masih besarnya tantangan akses pembiayaan formal di Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kepemilikan rekening bank meningkat dari 36 persen menjadi 56 persen. Namun, penetrasi kredit formal justru mengalami penurunan dari 18 persen pada 2017 menjadi 15 persen pada 2024.

Kesenjangan pembiayaan juga masih menjadi persoalan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Kesenjangan pembiayaan UMKM nasional tercatat mencapai Rp1.290 triliun, yang menunjukkan masih terdapat kebutuhan pembiayaan besar yang belum sepenuhnya dapat dijangkau melalui layanan keuangan konvensional.

Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, mengatakan studi tersebut dilakukan untuk menghadirkan perspektif berbasis bukti mengenai bagaimana kredit digital bekerja dalam konteks sosial dan ekonomi Indonesia.

Menurut Paksi, perkembangan industri kredit digital yang semakin besar perlu dilihat tidak hanya dari sisi pertumbuhan bisnis maupun risiko yang mungkin muncul, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari.

Studi awal tersebut juga menemukan peran kredit digital dalam memperluas akses pembiayaan bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau layanan kredit formal.

Pada 2025, satu dari enam pengguna aktif Kredivo tercatat sebagai pengakses kredit pertama. Kelompok pengguna tersebut didominasi oleh segmen yang relatif kurang terjangkau oleh layanan kredit formal, dengan 48 persen merupakan perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun.

Di sektor UMKM, studi mencatat 97 persen penerima pinjaman modal usaha merupakan pelaku usaha mikro. Selain itu, sekitar 40 persen pelaku UMKM yang menjadi penerima pembiayaan memperoleh akses kredit formal pertama mereka melalui Kredivo.

Data tersebut menunjukkan kredit digital berpotensi memainkan peran sebagai salah satu pintu masuk masyarakat dan pelaku usaha mikro ke dalam sistem pembiayaan formal, terutama bagi kelompok yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses terhadap kredit.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan temuan awal tersebut menggambarkan sebagian perubahan yang terjadi dalam perjalanan layanan Kredivo selama satu dekade terakhir.

Menurut Indina, layanan Kredivo pada awalnya hadir untuk membantu menjawab kesenjangan akses kredit di Indonesia. Seiring perkembangan ekosistem digital dan kebutuhan masyarakat, layanan tersebut berkembang menjadi bagian dari perjalanan finansial pengguna dengan kebutuhan yang semakin beragam.

Ia menilai hasil studi bersama LD FEB UI dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kontribusi kredit digital, sekaligus menjadi masukan bagi perusahaan dalam mengembangkan layanan pembiayaan yang lebih relevan, inklusif, dan bermanfaat bagi konsumen.

Studi dampak sosial dan ekonomi tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian melibatkan ratusan pengguna layanan serta puluhan pelaku UMKM yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Analisis dalam penelitian juga didukung oleh data internal Kredivo dan berbagai data sekunder untuk melihat dampak layanan PayLater serta Pinjaman Tunai yang disalurkan melalui KrediFazz.

Secara lebih luas, studi tersebut mengkaji kontribusi kredit digital terhadap sejumlah aspek, termasuk perluasan inklusi keuangan, perubahan perilaku finansial, penguatan akses pembiayaan bagi UMKM, serta dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.

Hasil lengkap penelitian dijadwalkan dipublikasikan dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo pada 10 September 2026.

Laporan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi pemangku kepentingan dalam memahami perkembangan industri kredit digital berdasarkan bukti empiris.

Dengan semakin berkembangnya layanan pembiayaan digital, diskusi mengenai kredit digital dinilai tidak hanya perlu berfokus pada pertumbuhan industri maupun risiko konsumsi. Studi LD FEB UI dan Kredivo menunjukkan pentingnya melihat kontribusi layanan tersebut secara lebih luas, termasuk terhadap inklusi keuangan, perluasan akses kredit formal, pemberdayaan UMKM, serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Temuan bahwa 54 persen kredit yang disalurkan melalui Kredivo pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif menjadi salah satu indikator awal bahwa pemanfaatan kredit digital di Indonesia memiliki karakter yang lebih beragam dibandingkan persepsi yang selama ini hanya menempatkannya sebagai instrumen pembiayaan konsumtif.

Hasil lengkap studi yang akan dirilis pada 10 September 2026 diharapkan dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai dampak sosial dan ekonomi kredit digital, sekaligus memperkaya diskusi mengenai peran industri teknologi finansial dalam menjawab kesenjangan pembiayaan di Indonesia. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |