Ambisi Trump Jadikan AS Kiblat Kripto Dunia Tersandung Gejolak Pasar

1 day ago 23

Jakarta (pilar.id) – Terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat dengan janji menjadikan negaranya sebagai pusat kripto dunia, Donald Trump sempat dianggap sebagai katalis kebangkitan industri aset digital global. Berbagai kebijakan pro-kripto yang diambil pemerintahannya, mulai dari penunjukan regulator hingga pengesahan undang-undang, membuka jalan bagi integrasi kripto ke dalam sistem keuangan arus utama.

Trump menunjuk Paul Atkins, figur yang dikenal memiliki kedekatan dengan industri kripto, sebagai Ketua Securities and Exchange Commission (SEC). Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat perubahan pendekatan regulator yang sebelumnya dianggap keras terhadap aset digital. Di saat yang sama, Kongres yang dikuasai Partai Republik mengesahkan GENIUS Act, regulasi penting yang menetapkan kerangka hukum bagi stablecoin—jenis aset kripto yang dirancang untuk stabil dan memungkinkan transfer lintas negara secara instan.

Bagi industri, pengesahan regulasi tersebut menjadi kemenangan strategis, terlebih setelah ratusan juta dolar digelontorkan pada Pemilu 2024 untuk mendukung kandidat legislatif yang berpihak pada kripto. Dukungan politik itu mendorong lonjakan kepercayaan pasar dan memicu reli besar sepanjang sebagian besar 2025.

Euforia, Kepentingan, dan Kontroversi Etika

Optimisme terhadap kebijakan pro-kripto Trump juga diperkuat oleh keterlibatan langsung keluarganya dalam berbagai proyek aset digital, mulai dari penambangan bitcoin hingga layanan keuangan kripto, termasuk peluncuran meme coin bertajuk $TRUMP. Namun langkah tersebut memunculkan kekhawatiran etis terkait potensi konflik kepentingan.

Pihak Gedung Putih, melalui juru bicara Karoline Leavitt, membantah adanya konflik kepentingan dan menilai tudingan tersebut sebagai upaya yang memperkeruh kepercayaan publik. Administrasi Trump menegaskan bahwa seluruh kebijakan yang diambil bertujuan mendorong inovasi dan peluang ekonomi, sejalan dengan janji menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin global industri kripto.

Bitcoin Melejit, Lalu Terjun Bebas

Didorong sentimen positif tersebut, pasar kripto mencatat lonjakan signifikan. Harga bitcoin hampir dua kali lipat sejak Trump terpilih kembali pada November 2024, mencapai rekor tertinggi sekitar US$126.000 per koin pada Oktober 2025. Namun euforia itu tidak bertahan lama.

Pasar mulai berbalik arah setelah Trump melontarkan ancaman penerapan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap impor China pada 10 Oktober 2025. Pernyataan tersebut mengguncang pasar global dan mendorong investor melepas aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Meski ancaman tarif kemudian dilunakkan dan pasar saham pulih, kripto tidak mengalami pemulihan serupa.

Hingga akhir Desember 2025, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$87.600, terkoreksi sekitar 30 persen dari puncaknya. Secara tahunan, kinerja bitcoin justru mencatat penurunan, berbanding terbalik dengan indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan Dow Jones yang menutup tahun dengan kenaikan dua digit.

Spekulasi Berlebihan dan Efek Leverage

Salah satu faktor utama yang memperparah koreksi kripto adalah tingginya penggunaan leverage. Optimisme terhadap “tahun emas kripto” mendorong investor mengambil risiko besar dengan meminjam dana untuk membeli aset digital tambahan, menggunakan kepemilikan kripto mereka sebagai jaminan.

Alex Thorn, Kepala Riset Galaxy Digital, menilai praktik leverage tersebut berdampak sangat merusak ketika pasar berbalik arah. Kerugian yang berlipat ganda akibat penurunan harga membuat banyak investor enggan kembali masuk ke pasar, sehingga memperlambat proses pemulihan.

Fenomena ini menegaskan perbedaan karakter antara pasar kripto dan pasar saham. Ketika indeks saham AS mampu bangkit dan mencetak rekor baru, kripto justru tertahan oleh trauma kerugian besar dan likuidasi paksa akibat leverage.

Siklus Boom dan Bust yang Berulang

Koreksi tajam di 2025 kembali mengingatkan pada pola klasik boom and bust yang kerap mewarnai sejarah kripto. Pada 2022, industri juga mengalami “musim dingin” panjang setelah euforia pandemi berakhir, suku bunga naik, dan runtuhnya FTX memicu krisis kepercayaan. Harga bitcoin kala itu anjlok dari sekitar US$50.000 ke bawah US$20.000.

Peristiwa serupa juga terjadi pada 2018, ketika gelembung initial coin offering (ICO) pecah setelah lonjakan investasi spekulatif. Mark Hays dari Americans for Financial Reform menilai pasar kripto secara struktural masih sangat bergantung pada spekulasi dan pengambilan risiko ekstrem, sehingga rentan terhadap guncangan besar ketika sentimen berubah.

Optimisme Industri, Kekhawatiran Sistemik

Meski demikian, pelaku industri tetap menyimpan optimisme. Adam Morgan McCarthy dari Kaiko menilai kripto kini telah berkembang menjadi sebuah industri yang lebih matang, sehingga potensi kejatuhan total seperti masa lalu dinilai lebih kecil. Dukungan regulator, sikap yang lebih akomodatif dari SEC, serta pembahasan lanjutan CLARITY Act di Kongres memperkuat keyakinan tersebut.

RUU CLARITY Act berpotensi mengalihkan sebagian besar pengawasan kripto ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC), regulator yang dinilai lebih ramah terhadap inovasi. Selain itu, ketertarikan lembaga keuangan besar seperti JPMorgan Chase untuk menyediakan layanan perdagangan kripto bagi klien institusional menjadi sinyal meningkatnya penerimaan arus utama.

Namun bagi kalangan kritis, integrasi yang semakin dalam antara kripto dan sistem keuangan konvensional justru meningkatkan risiko sistemik. Mark Hays memperingatkan bahwa krisis kripto di masa depan berpotensi menular ke pasar keuangan yang lebih luas, menyerupai krisis finansial sebelumnya.

Tahun yang Kembali Tak Sesuai Harapan

Menutup 2025, industri kripto kembali dihadapkan pada realitas pahit. Setelah digadang-gadang sebagai tahun kejayaan, pasar justru berakhir dengan koreksi dan ketidakpastian. Ambisi Trump menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat kripto dunia memang membawa perubahan regulasi dan legitimasi politik, namun juga memperlihatkan bahwa dukungan kebijakan tidak serta-merta menghapus volatilitas dan risiko inheren industri ini.

Sejarah kripto kembali menegaskan satu pola lama: potensi keuntungan besar selalu berjalan beriringan dengan peluang kerugian yang sama besarnya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, harapan besar kembali diuji oleh kenyataan pasar yang tak selalu sejalan. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |