Jakarta (pilar.id) – Memasuki usia 40-an, banyak perempuan mulai mengalami perubahan fisik dan mental, seperti siklus menstruasi tidak teratur, insomnia, hingga fluktuasi suasana hati. Sayangnya, karena tingginya tuntutan peran sebagai ibu, istri, maupun profesional, perubahan biologis ini kerap diabaikan. Untuk meningkatkan kesadaran publik, Primaya Hospital menyelenggarakan seminar edukasi bertajuk “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause” pada Sabtu (18/7/2026) di Jakarta.
Bekerja sama dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli, ajang multidisiplin ini mengupas fase perimenopause secara menyeluruh. Kolaborasi ini melibatkan pakar ginekologi, kesehatan jiwa, gizi klinis, hingga praktisi industri untuk mendorong perempuan mengenali perubahan tubuhnya sejak dini.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, menegaskan pentingnya pendampingan medis yang tepat agar masa transisi biologis ini berjalan nyaman. Menurutnya, edukasi yang memadai dapat mencegah kekhawatiran berlebih maupun tindakan over-treatment, sehingga perempuan tahu kapan harus berkonsultasi ke dokter demi mempertahankan kualitas hidup.
Dampak Perubahan Hormon terhadap Fisik dan Kesehatan Kulit
Fase perimenopause umumnya dimulai pada kisaran usia 40 hingga 50 tahun akibat penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron. Spesialis Kebidanan dan Kandungan Primaya Hospital, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, memaparkan bahwa rata-rata perempuan memasuki masa transisi ini di usia 47,5 tahun sebelum akhirnya mencapai menopause sekitar usia 51,3 tahun. Mengingat angka harapan hidup perempuan yang kini makin tinggi, hampir sepertiga masa hidup akan dijalani pada fase klimakterik ini.
Fluktuasi hormonal tersebut berdampak langsung pada metabolisme tubuh, kepadatan tulang, hingga elastisitas kulit. Dokter Spesialis KKT-LP, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, menyebutkan bahwa penurunan estrogen dapat mengikis hingga 30 persen kolagen kulit dalam lima tahun pertama setelah menopause. Kondisi ini membuat kulit lebih kering dan tipis, serta memicu kerontokan rambut.
Guna meredam dampak fisik tersebut, pengelolaan gizi seimbang menjadi fondasi utama. Spesialis Gizi Klinis Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK, mengimbau pentingnya asupan nutrisi untuk menjaga massa otot. Sementara itu, dari aspek medis terpadu, dr. Feliani, Sp.Ak, menambahkan bahwa terapi akupunktur medis dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelaraskan kembali vitalitas tubuh.
Menjaga Kesehatan Mental dan Kebugaran Fisik di Masa Transisi
Selain dampak fisik, aspek psikologis menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan usia matang. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc., mengungkapkan bahwa perubahan mood adalah respons biologis alami yang kerap bertepatan dengan tingginya tekanan hidup. Ia menyarankan penerapan metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas, Observasi, dan Pilih respons) untuk mengelola stres harian.
Sektor kebugaran fisik juga tidak boleh diabaikan. Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR, menyoroti bahwa sekitar 72,9 persen perempuan menopause berisiko mengalami gangguan dasar panggul. Latihan fisik yang terukur dan rutin dinilai ampuh menjaga kekuatan otot serta memperkuat fungsi organ dalam.
Dukungan terhadap keberlanjutan produktivitas perempuan turut disuarakan para pemimpin perempuan yang hadir. CEO & Co-Founder Yoona Women Susanna Angraini, President Director Martha Tilaar SPA Wulan Maharani Tilaar, serta COO & Co-Founder Blibli Lisa Widodo sepakat bahwa perimenopause bukanlah hambatan untuk terus berkarya. Keterbukaan dialog, perawatan diri yang holistik, serta dukungan lingkungan kerja yang suportif menjadi kunci agar perempuan tetap berdaya dan percaya diri di setiap tahap kehidupan. (ret/hdl)

15 hours ago
9





























