KTT Pengembangan Broadband APAC 2026 di Bangkok: Rancang Infrastruktur Jaringan Berbasis AI Masa Depan

5 hours ago 4

Bangkok (pilar.id) – Era kecerdasan buatan (AI) menuntut transformasi total pada sektor infrastruktur digital. Menjawab tantangan tersebut, para pejabat pemerintah, badan standardisasi, dan operator telekomunikasi terkemuka di Asia-Pasifik berkumpul dalam ajang Broadband Development Summit APAC 2026 pertama yang diselenggarakan di Bangkok.

Pertemuan tingkat tinggi yang diinisiasi oleh World Broadband Association (WBBA) ini bertujuan membangun konsensus regional untuk mempercepat evolusi jaringan pintar di era AI.

KTT ini dihadiri oleh institusi global dan regional seperti ITU, Dewan Ekonomi dan Masyarakat Digital Nasional Thailand, IAB, FNCAP, WAA, NIDA, dan IPv6 Council. Selain itu, raksasa teknologi Huawei bersama sejumlah operator besar Asia-Pasifik—termasuk Telkomsel, XLSmart, Surge Indonesia, Globe, AIS, CMI, dan HKT—turut hadir merumuskan cetak biru konektivitas masa depan.

Integrasi AI sebagai Mesin Utama Daya Saing Digital

Pergeseran paradigma teknologi menempatkan pita lebar berkecepatan tinggi tidak lagi sekadar alat untuk terhubung ke internet, melainkan pondasi utama dari revolusi AI. Sekretaris Jenderal Dewan Ekonomi dan Masyarakat Digital Nasional Thailand, Wetang Phuangsup, menekankan bahwa AI kini diposisikan sebagai mesin penggerak daya saing nasional sekaligus katalisator peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Evolusi menuju arsitektur jaringan generasi baru menjadi mutlak untuk mendukung transformasi digital lintas industri. Pakar Standardisasi Industri Huawei sekaligus perwakilan IAB dan IETF, Dhruv Dhody, menjelaskan bahwa arsitektur jaringan harus terus dikembangkan guna memberikan konektivitas yang lebih luas, aman, dan cerdas. Hal ini esensial bagi implementasi Net5.5G, di mana jaringan berperan sebagai fondasi yang memperkuat ketahanan dan efisiensi sistem.

Sebagai langkah konkret menuju tahun 2030, Direktur Jenderal WBBA, Martin Creaner, menyerukan tiga inisiatif utama. Industri telekomunikasi global didorong untuk menutup kesenjangan kualitas layanan, membangun jaringan siap AI terintegrasi yang mencakup 10G access dan 800GE cores, serta menyatukan persepsi melalui standarisasi bersama secara global.

Operator Indonesia dan Regional Mulai Terapkan Jaringan Pintar

Kesiapan infrastruktur di Asia-Pasifik juga ditandai dengan penetrasi jaringan serat optik yang kini mulai merambah ke sektor gawai hingga mesin-mesin industri. Di Indonesia, transformasi ini diadopsi secara agresif oleh para operator lokal. Direktur Sales Telkomsel Indonesia, Stanislaus Susatyo, menyatakan bahwa perusahaan tengah bertransformasi menjadi pencipta nilai baru dengan memanfaatkan jaringan Fixed Broadband (FBB) guna memperkuat ekosistem rumah tangga masa depan.

Langkah serupa juga diimplementasikan oleh Surge Indonesia dalam menyediakan akses internet skala besar yang terjangkau bagi masyarakat digital. Di sisi lain, Head of Transport Autonomy & Orchestration XLSMART, Regie Ginanjar, memaparkan bahwa adopsi bertahap pada operasi berbasis AI, SRv6, dan SDN merupakan bagian dari peta jalan jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan ketahanan jaringan nasional.

Penerapan kecerdasan buatan secara otonom juga mulai diadopsi oleh operator regional seperti Globe Telecom di Filipina. Sistem kecerdasan buatan yang tertanam langsung pada inti arsitektur mereka mampu memantau kesehatan jaringan dan perilaku konsumen secara seketika (real-time), bahkan sanggup menyelesaikan 30 persen masalah Wi-Fi secara otomatis tanpa intervensi manusia.

Peluncuran Sertifikasi AI-Net dan Penghargaan Gigacity

Akselerasi teknologi ini turut didorong oleh sinergi antara teknologi optik dan AI. Perusahaan teknologi global Huawei memperkenalkan konsep Optics-AI Synergy (AI-ON) untuk membangun jaringan target all-optical yang berpusat pada AI. Solusi ini dirancang untuk menciptakan lingkaran latensi 1-5-20 milidetik di seluruh kawasan Asia-Pasifik demi mengoptimalkan akses komputasi massal.

Dalam rangkaian KTT tersebut, institusi riset NIDA dan WBBA resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk mempercepat evolusi jaringan generasi berikutnya serta menetapkan tolok ukur smart city baru. Kerja sama ini berfokus pada pengembangan standar arsitektur dan harmonisasi regulasi global.

Sebagai penutup KTT, WBBA meluncurkan sertifikasi AI-Net, sebuah standarisasi global untuk mengukur kebijakan nasional dan kecerdasan jaringan. Dalam peluncuran tersebut, XLSmart mencetak prestasi sebagai peraih gelar AI-Net Champion pertama berkat kesiapan peta jalan Net5.5G di Indonesia.

Selain itu, penghargaan Gigacity Certification juga diserahkan kepada para pionir pita lebar regional, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Indonesia, Surge, Telkomsel, AIS, TRUE, HKT, dan Globe. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |