Jakarta (pilar.id) – Sepanjang tahun 2026, masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan beragam fenomena astronomi menarik, mulai dari gerhana Bulan total, hujan meteor tahunan, hingga fase supermoon. Sejumlah peristiwa ini dapat diamati dari berbagai wilayah Tanah Air dan menjadi momen edukatif untuk mengenal dinamika tata surya secara langsung.
Salah satu fenomena paling menonjol terjadi pada Maret 2026, ketika gerhana Bulan total dapat diamati dari Indonesia. Pada fase puncak, Bulan akan tertutup sepenuhnya oleh bayangan Bumi dan tampak berwarna kemerahan akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fenomena ini tergolong aman untuk diamati tanpa alat bantu optik, selama kondisi cuaca cerah.
Memasuki April 2026, hujan meteor Lyrid diperkirakan mencapai puncak aktivitasnya pada pertengahan bulan. Meski jumlah meteor yang muncul relatif terbatas, Lyrid dikenal menghasilkan meteor terang yang sesekali meninggalkan jejak cahaya panjang di langit malam.
Pada Mei, hujan meteor Eta Aquarid menjadi salah satu fenomena paling ideal untuk diamati dari wilayah Indonesia. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu Komet Halley dan memiliki kecepatan tinggi saat memasuki atmosfer Bumi. Pengamatan terbaik dapat dilakukan menjelang fajar, terutama dari lokasi yang minim polusi cahaya.
Bulan Agustus 2026 turut menghadirkan hujan meteor Perseid. Meski puncak aktivitasnya lebih menguntungkan bagi belahan Bumi utara, sebagian meteor Perseid tetap berpotensi terlihat dari Indonesia pada dini hari, khususnya di wilayah dengan langit gelap.
Selain hujan meteor, beberapa fase supermoon diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026. Supermoon terjadi saat Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi pada fase purnama, sehingga tampak lebih besar dan lebih terang dibandingkan purnama biasa.
Menjelang akhir tahun, hujan meteor Geminid pada Desember 2026 menjadi penutup yang dinantikan. Geminid dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling konsisten dengan jumlah meteor terang yang relatif banyak dan dapat diamati dari Indonesia sejak malam hingga dini hari.
Awal Era Gerhana Matahari
Tahun 2026 juga menandai awal meningkatnya frekuensi Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Cincin Api. Dalam kurun dua tahun ke depan, tercatat enam peristiwa gerhana Matahari akan terjadi, menjadikan periode ini sebagai era yang menarik bagi pengamat gerhana.
Gerhana Matahari Total pertama akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Dalam rentang sekitar 710 hari, masyarakat dunia dapat menyaksikan tiga Gerhana Matahari Total, sementara tiga Gerhana Matahari Cincin Api akan terjadi dalam kurun 708 hari.
Berdasarkan data yang dikutip dari laman Space, Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 akan melintasi wilayah Siberia, Greenland timur, Islandia, hingga Spanyol bagian utara. Puncak gerhana diperkirakan berlangsung lebih dari dua menit, dengan posisi Matahari relatif rendah di cakrawala.
Gerhana Matahari Total berikutnya akan terjadi pada 2 Agustus 2027 dan melintasi Spanyol selatan, Afrika Utara, serta Timur Tengah dengan durasi mencapai lebih dari enam menit. Selanjutnya, pada 22 Juli 2028, gerhana total akan melintasi Australia hingga Selandia Baru, dengan durasi totalitas lebih dari lima menit di beberapa wilayah terpencil Australia Barat.
Sementara itu, Gerhana Matahari Cincin Api dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026 di wilayah Antartika, disusul 6 Februari 2027 yang melintasi Amerika Selatan hingga Afrika Barat, serta 26 Januari 2028 yang melintasi Amerika Selatan hingga Eropa Selatan saat Matahari terbenam.
Rangkaian fenomena astronomi sepanjang 2026 ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Indonesia untuk menyaksikan langsung keindahan dan keteraturan alam semesta. Dengan persiapan sederhana serta dukungan cuaca cerah, langit tahun 2026 menawarkan banyak peristiwa yang layak dinantikan dan diamati bersama. (usm/hdl)

11 hours ago
6

















































