IHSG Cetak All Time High: Strategi Investasi Cerdas agar Investor Tak Terjebak Euforia

1 day ago 11

Summary Point

  • IHSG mencetak all time high merupakan bagian normal dari siklus pasar saham.
  • ATH tidak otomatis menjadi sinyal jual bagi investor jangka panjang.
  • Perbedaan kinerja IHSG dan LQ45 wajar karena metodologi dan komposisi berbeda.
  • Bias psikologis seperti FOMO lebih berbahaya dibanding volatilitas pasar.
  • Strategi DCA, diversifikasi, dan rebalancing membantu menjaga disiplin investasi.
  • Fokus pada tujuan investasi lebih penting daripada mengejar euforia harga.

Jakarta (pilar.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH). Fenomena ini kerap memunculkan dua respons ekstrem di kalangan investor: euforia berlebihan atau justru kekhawatiran pasar sudah terlalu mahal. Padahal, rekor baru pada indeks saham tidak selalu identik dengan sinyal bahaya.

Sepanjang 2025, IHSG mencatatkan penguatan dua digit dan menorehkan puluhan rekor harian sebelum menutup tahun di level tertinggi.

Menurut Dimas Ardinugraha, Investment Specialist dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, tren positif tersebut berlanjut pada awal 2026, seiring dukungan kinerja emiten dan likuiditas pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ATH merupakan bagian alami dari perjalanan pasar modal yang bertumbuh.

ATH Bukan Alarm Otomatis

Dalam dinamika pasar yang sehat, rekor baru justru mencerminkan pertumbuhan laba perusahaan dan kepercayaan investor.

“Data historis menunjukkan bahwa pasar saham kerap melanjutkan penguatan setelah mencetak ATH, meski diselingi volatilitas jangka pendek. Karena itu, keputusan keluar dari pasar hanya karena IHSG berada di level tertinggi sering kali berujung pada kehilangan momentum pemulihan yang terjadi cepat dan sulit diprediksi,” jelasnya.

Memahami Perbedaan IHSG dan LQ45

Kesalahan umum investor adalah membandingkan kinerja reksa dana saham dengan IHSG secara langsung. IHSG mencakup seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, sementara indeks seperti LQ45 hanya berisi saham berkapitalisasi besar, likuid, dan relatif kuat secara fundamental.

Pada fase tertentu, penguatan IHSG dapat didorong oleh saham-saham berkarakter high momentum yang naik agresif dalam jangka pendek. Saham jenis ini umumnya tidak menjadi fokus reksa dana yang dikelola secara prudent. Akibatnya, reksa dana berbasis saham unggulan bisa tampak tertinggal sementara, meski secara risiko dan kualitas portofolio lebih terjaga.

Jebakan Psikologis Saat Pasar Rekor

Kondisi ATH sering memicu bias perilaku seperti fear of missing out (FOMO), kepercayaan diri berlebihan, dan kecenderungan mengejar kinerja masa lalu.

Bias-bias ini, kata Dimas Ardinugraha, berpotensi mendorong keputusan beli di harga tinggi dan jual saat pasar terkoreksi. Dalam praktiknya, upaya market timing sangat sulit dilakukan secara konsisten, bahkan oleh investor profesional.

“Pendekatan yang lebih rasional adalah menjaga disiplin investasi melalui strategi investasi berkala (Dollar Cost Averaging), diversifikasi lintas aset, serta pengelolaan risiko yang terukur,” tegasnya.

Risiko Melewatkan Momentum Pasar

Berbagai studi menunjukkan bahwa melewatkan hanya beberapa hari terbaik di pasar dapat memangkas imbal hasil jangka panjang secara signifikan. Rebound sering kali terjadi cepat setelah periode gejolak. Oleh karena itu, tetap berada di pasar sesuai rencana investasi (time in the market) cenderung memberikan hasil yang lebih stabil dibandingkan keluar-masuk pasar berdasarkan sentimen jangka pendek.

Dimaspun mengatakan, investor disarankan kembali pada tujuan awal investasi, baik untuk pendidikan, pensiun, maupun akumulasi kekayaan. Evaluasi portofolio sebaiknya dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan tujuan dan profil risiko, bukan semata-mata level IHSG.

“Diversifikasi lintas aset, penerapan DCA, serta rebalancing berkala dapat membantu menahan dampak euforia dan mengunci keuntungan secara bertahap. Selain itu, penggunaan tolok ukur yang sesuai dengan karakter portofolio akan memberikan gambaran kinerja yang lebih objektif,” katanya.

Pada akhirnya, perbedaan kinerja antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham merupakan hal wajar yang mencerminkan perbedaan komposisi dan strategi, bukan kegagalan investasi. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |