Kisah 3 Lulusan Kedokteran UGM Ber-IPK 4,00, dari Tekanan Ekonomi hingga Pengabdian di Daerah 3T

11 hours ago 10

loading...

Mahasiswa UGM Tegar Rinang Pratama. Foto/UGM.

JAKARTA - Tiga mahasiswa UGM berhasil lulus dan meraih gelar S1 Kedokteran dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00. Ketiga mahasiswaProgram Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) ini adalah Tegar Rinang Pratama, Kharisa Rasikhatul Hikmah, dan Ashifa Jasmine.

Capaian tersebut terbilang istimewa mengingat rata-rata IPK lulusan program sarjana pada periode wisuda kali ini berada di angka 3,60. Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa konsistensi, kerja keras, dan ketekunan dapat mengantarkan mahasiswa mencapai hasil akademik terbaik.

Baca juga: Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce

Ashifa Jasmine, Terinspirasi Pengalaman Sakit hingga Ingin Mengabdi di Daerah 3T

Bagi Ashifa Jasmine, pilihan untuk menempuh pendidikan kedokteran berakar dari pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan rumah sakit akibat penyakit kronis yang pernah diderita. Pengalaman tersebut membuatnya mengenal dunia kesehatan sejak usia dini dan menumbuhkan keinginan untuk membantu orang lain yang mengalami kondisi serupa.

“Aku ingat bagaimana saat aku sakit aku merasa sangat terbantu dengan dokter dan tenaga kesehatan. Jadi aku juga ingin memberikan impact yang sama ke orang lain melalui bidang kesehatan,” katanya, dikutip dari laman UGM, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Kisah Launa Silky, Wisudawan Terbaik Magister Unpad dengan Deretan Publikasi Jurnal Q1

Perjalanan akademik mahasiswi asal Lombok itu tidak selalu berjalan mulus. Selama kuliah, ia sempat menghadapi tekanan ekonomi yang membuatnya beberapa kali mencoba mendapatkan beasiswa meski belum berhasil. Kondisi tersebut sempat memunculkan keraguan terhadap kemampuan dirinya untuk bertahan di lingkungan akademik yang kompetitif.

Namun, Ashifa memilih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikannya, yakni usaha dan proses belajar. “Yang bisa aku kontrol adalah usahaku sendiri. Jadi aku fokus belajar dan melakukan apa yang bisa aku lakukan,” ujarnya.

Dalam perjalanan tersebut, sosok ibu menjadi sumber motivasi utama. Menurutnya, sang ibu selalu mengajarkan agar tidak takut mencoba dan berani menghadapi kegagalan. Nasihat itu membuatnya terus mengambil peluang meski harus berhadapan dengan berbagai penolakan.

“Ibuku yang selalu mendorong aku kalau misalnya ada suatu kesempatan ambil aja gitu. Tidak perlu takut untuk mencoba, tidak perlu takut untuk kalah, gagal, itu hal yang biasa,” tuturnya.

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |