Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan naik 1,0 persen dalam 24 jam terakhir ke level US$72.258 pada Jumat (10/4/2026). Kenaikan ini melampaui pertumbuhan pasar kripto secara keseluruhan yang hanya mencapai 0,79 persen, menandakan adanya dorongan kuat dari faktor eksternal.
Penguatan harga Bitcoin terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik setelah kabar gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen ini memicu reli pada berbagai aset berisiko secara global, termasuk pasar saham dan kripto.
Indikasi tersebut terlihat dari pergerakan indeks S&P 500 yang turut menguat 1,9 persen. Korelasi tinggi antara Bitcoin dan indeks saham tersebut, yang tercatat mencapai 0,88, menunjukkan bahwa pergerakan kripto saat ini semakin dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global.
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kenaikan harga Bitcoin lebih dipicu oleh perubahan sentimen global dibandingkan faktor fundamental internal. Ia melihat Bitcoin saat ini bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya ketika ketegangan geopolitik mereda.
Selain faktor eksternal, kenaikan harga juga diperkuat oleh dinamika pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, terjadi likuidasi posisi short senilai sekitar US$427 juta, yang memicu aksi beli paksa dan mempercepat kenaikan harga. Kondisi ini diperkuat oleh keberhasilan Bitcoin menembus level teknikal penting di kisaran US$71.500.
Dari sisi indikator teknikal, tren penguatan masih terlihat dengan Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 67,49. Angka ini menunjukkan momentum bullish yang masih berlanjut, meskipun belum memasuki zona jenuh beli.
Sentimen positif juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi PCE Februari tercatat sebesar 2,8 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di level 3 persen. Stabilnya inflasi ini memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel dari Federal Reserve.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati rilis data inflasi CPI Maret yang diperkirakan meningkat menjadi 3,3 persen. Data tersebut dinilai krusial karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga serta pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Dalam jangka pendek, peluang penguatan Bitcoin masih terbuka selama harga mampu bertahan di atas level US$71.500. Jika kondisi tersebut terjaga, harga berpotensi menguji resistance di kisaran US$72.545 hingga US$73.500.
Meski demikian, risiko koreksi tetap membayangi. Ketidakpastian geopolitik, termasuk potensi berakhirnya gencatan senjata, dapat memicu tekanan kembali ke level support di sekitar US$68.700. Selain itu, perubahan kebijakan moneter global juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan semakin eratnya keterkaitan pasar kripto dengan kondisi global. Kombinasi sentimen geopolitik, tekanan pasar derivatif, dan dukungan teknikal memberikan peluang kenaikan lanjutan, namun tetap disertai risiko tinggi yang menuntut kewaspadaan investor. (ret/hdl)

1 day ago
14

















































