Jepang Siap Intervensi Pasar Valas saat Yen Tertekan, Koordinasi dengan AS Makin Diperkuat

7 hours ago 13

Tokyo (pilar.id) – Pemerintah Jepang menyatakan siap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing apabila pergerakan nilai tukar yen dinilai berlebihan dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama setelah melakukan pembicaraan daring dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent.

Sikap tersebut muncul ketika nilai tukar yen kembali berada di bawah tekanan dan mendekati titik terlemah dalam beberapa dekade terakhir terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar global yang mulai memperkirakan kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uangnya.

Katayama menjelaskan bahwa Jepang dan Amerika Serikat tetap berpegang pada kesepahaman bersama terkait kebijakan nilai tukar. Dalam prinsip yang telah disepakati kedua negara, intervensi di pasar valuta asing hanya dilakukan untuk merespons volatilitas yang berlebihan atau pergerakan mata uang yang tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi.

Menurut Katayama, pembicaraan dengan Scott Bessent berlangsung konstruktif dan menunjukkan kesamaan pandangan dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang berkembang. Ia menegaskan komunikasi antara Tokyo dan Washington tetap berjalan erat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan internasional.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian besar dari pasar karena yen sempat diperdagangkan di kisaran lebih dari 161 yen per dolar AS. Level tersebut mendekati rekor pelemahan yang terakhir tercatat pada Juli 2024. Jika nilai tukar menembus level 161,96 yen per dolar AS, mata uang Jepang berpotensi mencapai posisi terlemah sejak 1986.

Tekanan terhadap yen dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh ekspektasi pasar bahwa kesenjangan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat masih akan bertahan. Investor menilai kebijakan moneter kedua negara masih bergerak dalam arah yang berbeda sehingga mendorong arus modal keluar dari aset berdenominasi yen menuju dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Selain itu, pasar juga memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat kembali mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter apabila inflasi belum menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Ekspektasi tersebut semakin memperkuat posisi dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia, termasuk yen.

Bagi Jepang, pelemahan yen memiliki dua sisi dampak. Di satu sisi, kondisi tersebut dapat meningkatkan daya saing ekspor karena produk Jepang menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun di sisi lain, yen yang terlalu lemah dapat meningkatkan biaya impor energi, bahan baku, dan kebutuhan industri, sehingga menambah tekanan terhadap inflasi domestik.

Katayama menegaskan bahwa pertemuannya dengan Scott Bessent bukan merupakan respons darurat terhadap gejolak pasar, melainkan tindak lanjut dari komunikasi yang telah dibangun sebelumnya, termasuk setelah pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang baru digelar.

Selain membahas stabilitas nilai tukar, kedua pejabat juga mendiskusikan kerja sama di bidang teknologi dan keamanan digital. Jepang dan Amerika Serikat sepakat memperkuat koordinasi dalam menghadapi tantangan yang muncul dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), terutama model AI dengan kemampuan keamanan siber tingkat lanjut.

Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah potensi penyalahgunaan teknologi AI canggih untuk melancarkan serangan siber. Karena itu, kedua negara mendorong penguatan kerja sama pengawasan dan mitigasi risiko agar perkembangan teknologi tetap memberikan manfaat tanpa menimbulkan ancaman baru bagi keamanan digital global.

Pernyataan pemerintah Jepang mengenai kesiapan melakukan intervensi valuta asing menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan internasional. Investor kini akan mencermati pergerakan yen dalam beberapa pekan mendatang serta langkah lanjutan yang mungkin diambil Tokyo apabila tekanan terhadap mata uang Jepang terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |