Mudah Lelah hingga Gula Darah Berubah Bisa Jadi Sinyal Gangguan Hormon dan Metabolisme

8 hours ago 11

Jakarta (pilar.id) – Tubuh terus memberikan sinyal ketika terjadi perubahan pada kondisi kesehatan. Mudah lelah, stamina menurun, perubahan fungsi seksual, berat badan bertambah, hingga perubahan kadar gula darah kerap dianggap sebagai konsekuensi usia atau gaya hidup. Padahal, sejumlah perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan hormon dan metabolisme yang perlu dievaluasi secara medis.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” yang berlangsung pada Juli 2026.

Seminar tersebut menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam, antara lain dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, untuk membahas perkembangan penanganan gangguan hormon dan metabolisme dalam praktik klinis.

Pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya tidak mengabaikan perubahan tubuh yang berlangsung menetap, terutama ketika mulai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.

Penurunan Testosteron pada Pria Tidak Selalu Sekadar Faktor Usia

Pada pria, kadar testosteron memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan free testosterone semakin terlihat setelah usia 50 tahun.

Namun, perubahan hormonal yang menetap dan disertai keluhan tertentu perlu mendapatkan perhatian. Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah late-onset hypogonadism (LOH), yakni kondisi kekurangan testosteron pada pria yang berkaitan dengan proses penuaan.

Materi seminar menyebutkan prevalensi LOH sekitar 2,1 persen pada populasi pria secara umum. Angka tersebut meningkat seiring usia, dari sekitar 0,1 persen pada kelompok usia 40–49 tahun menjadi 5,1 persen pada usia 70–79 tahun. Risiko juga dapat lebih tinggi pada pria dengan obesitas atau metabolic syndrome.

Menurut dr. Marshell Tendean, yang berpraktik di UKRIDA Primaya Hospital, pria perlu lebih peka ketika perubahan fisik mulai memengaruhi aktivitas maupun kualitas hidup.

Penurunan stamina, mudah lelah, serta perubahan fungsi seksual yang menetap tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan hormonal atau kondisi lain yang mendasarinya.

Dengan demikian, persoalan testosteron tidak hanya berkaitan dengan fungsi seksual. Perubahan hormonal dapat berhubungan dengan berbagai aspek kesehatan sehingga diperlukan pemeriksaan yang tepat sebelum seseorang menyimpulkan bahwa keluhan yang dialaminya semata-mata disebabkan usia.

Diabetes Perlu Dilihat dari Risiko Organ dan Komplikasi

Sinyal perubahan metabolisme juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih sulit dikenali. Diabetes, misalnya, dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas sehingga seseorang baru mengetahui kondisinya ketika sudah terjadi komplikasi.

Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum mengetahui bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi karena penanganan belum dilakukan sejak dini.

Di Indonesia, berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dunia dalam prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun. Indonesia juga berada di peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

dr. Khomimah, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menekankan bahwa diabetes perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan yang lebih luas daripada sekadar tingginya kadar gula darah.

Diabetes tipe 2 melibatkan berbagai mekanisme dan organ, termasuk pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, serta sistem imun. Karena itu, pengelolaannya perlu mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.

Pendekatan tersebut membuat penanganan diabetes kini semakin diarahkan dari pola reaktif menuju strategi yang lebih proaktif. Dokter tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan organ dan pencegahan komplikasi sejak lebih awal.

Deteksi Dini untuk Menjaga Kualitas Hidup

Pendekatan pengelolaan gangguan hormon dan metabolisme semakin menempatkan kondisi setiap pasien sebagai pertimbangan utama. Faktor yang dapat diperhatikan antara lain kesehatan jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan dan preferensi pasien.

Artinya, keberhasilan terapi tidak semata-mata diukur dari perubahan satu parameter laboratorium. Tujuan yang lebih luas adalah mempertahankan fungsi organ, mengurangi risiko komplikasi, menjaga produktivitas, dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan perubahan tubuh yang berlangsung terus-menerus. Mudah lelah, penurunan stamina, perubahan fungsi seksual, peningkatan berat badan, atau perubahan kadar gula darah dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi kesehatan, terutama bila keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Melalui seminar tersebut, Primaya Hospital mendorong pendekatan kesehatan yang lebih preventif dan personal. Mengenali sinyal tubuh menjadi langkah awal, sedangkan deteksi dini dapat membuka peluang untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Pada akhirnya, perhatian terhadap perubahan tubuh bukan semata-mata untuk mengejar angka hormon, gula darah, atau berat badan yang ideal. Tujuan utamanya adalah mempertahankan kesehatan organ, mencegah komplikasi, dan menjaga kualitas hidup selama mungkin. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |