Jakarta (pilar.id) – Perempuan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memperluas peran di ruang publik, ekonomi, politik, diplomasi, hingga industri masa depan. Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam webinar “Refleksi Kemerdekaan oleh Perempuan Paramadina: Bidang Ekonomi dan Sosial Politik” yang digelar Universitas Paramadina pada 14 Agustus 2026.
Forum yang berlangsung menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia itu menghadirkan sejumlah akademisi dan pimpinan Universitas Paramadina, yakni Prof. Dr. Iin Mayasari, Dr. Rini Sudarmanti, Dr. Fatchiah E. Kertamuda, Dr. Prima Naomi, Dr. Peni Hanggarini, Tia Rahmania, M.Psi., dan Hendriana Werdaningsih, Ph.D.
Acara diawali sambutan Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini dan dimoderatori Kenita Putri, M.M., dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina.
Diskusi menempatkan kemerdekaan perempuan bukan sekadar pada meningkatnya akses pendidikan atau partisipasi ekonomi, tetapi juga pada kemampuan perempuan memperoleh kesempatan yang setara untuk berada di posisi strategis dan ikut menentukan arah kebijakan.
Partisipasi Ekonomi Perempuan Meningkat, Posisi Strategis Masih Menjadi Tantangan
Prof. Dr. Iin Mayasari menilai salah satu ukuran kemerdekaan perempuan dapat dilihat dari tersedianya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis di ruang publik.
Perempuan, menurut Iin, telah berkembang dari peran domestik menuju posisi yang lebih besar sebagai penggerak UMKM dan penopang ketahanan ekonomi keluarga. Keterlibatan tersebut sekaligus memperlihatkan kontribusi perempuan terhadap perekonomian nasional.
Dalam ranah sosial politik, keterlibatan perempuan juga dinilai dapat memperkaya perspektif dalam proses pengambilan kebijakan. Kehadiran perempuan di parlemen, pemerintahan, dan organisasi sosial menjadi bagian dari upaya membangun ruang demokrasi yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Namun, peningkatan partisipasi tersebut masih menghadapi hambatan berupa ketimpangan gender, faktor kultural, serta akses yang belum merata terhadap posisi strategis.
Hal serupa disampaikan Dr. Rini Sudarmanti yang mempertanyakan sejauh mana ruang publik Indonesia benar-benar telah memberikan kemerdekaan kepada perempuan pada usia 81 tahun kemerdekaan.
Menurut Rini, sejumlah indikator memang memperlihatkan kemajuan, antara lain perkembangan indeks ketimpangan gender, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, keterlibatan dalam ekonomi kreatif, serta keterwakilan perempuan di legislatif.
Akan tetapi, peningkatan partisipasi belum otomatis membuat perempuan memperoleh posisi strategis secara proporsional. Materi yang dipaparkan Rini menunjukkan adanya kesenjangan antara jumlah perempuan yang memiliki pendidikan dan keterampilan dengan mereka yang kemudian bekerja atau menduduki posisi puncak di bidang tertentu.
Ia mencontohkan perempuan lulusan bidang STEM yang jumlahnya cukup besar, tetapi perempuan yang bekerja di sektor sains dan teknologi disebut hanya sekitar 8 persen. Di pemerintahan, perempuan disebut telah mencapai 57 persen, sementara yang berada di posisi puncak strategis sekitar 17 persen.
Rini juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan serta angka gender gap yang dalam materi seminar disebut berada di level 0,692. Data tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan partisipasi belum berarti persoalan kesetaraan gender telah selesai.
Politik dan Diplomasi Masih Membutuhkan Keterwakilan Perempuan
Persoalan kesetaraan semakin terlihat ketika pembahasan diarahkan pada pengambilan keputusan politik. Tia Rahmania, M.Psi., menilai keterwakilan perempuan tidak cukup diukur dari jumlah perempuan yang menjadi anggota legislatif.
Hal yang lebih penting adalah apakah perempuan memiliki peluang yang sama untuk berada di ruang tempat keputusan dibuat. Dengan keterwakilan yang lebih baik, perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk ikut membentuk kebijakan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Isu pangan, pendidikan, kesehatan ibu, ekonomi keluarga, hingga pengelolaan anggaran merupakan contoh bidang kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap perempuan. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dinilai menjadi salah satu indikator penting demokrasi yang sehat.
Dari sisi ekonomi, Dr. Prima Naomi memaparkan adanya peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum, tingkat partisipasi perempuan meningkat dari 52,44 persen menjadi 56,63 persen pada 2025. Indeks pembangunan gender perempuan juga disebut mencapai 91,85 pada tahun yang sama.
Namun, posisi Indonesia dalam Global Gender Gap Index masih menunjukkan tantangan. Prima menyebut Indonesia berada di peringkat ke-90 dari 148 negara. Kesenjangan terbesar terdapat pada aspek political empowerment, kemudian economic participation and opportunity.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan keterlibatan perempuan di bidang ekonomi belum sepenuhnya diikuti peningkatan pengaruh dalam pengambilan keputusan politik dan akses terhadap peluang ekonomi yang setara.
Sementara itu, Dr. Peni Hanggarini membawa pembahasan pada bidang diplomasi. Ia mengingatkan bahwa perempuan Indonesia telah memiliki sejarah panjang dalam diplomasi internasional sejak masa pascakemerdekaan, antara lain melalui tokoh Maria Ulfah Subadio, Laily Roesad, dan Supeni Pujobuntoro.
Meski demikian, keterwakilan perempuan dalam posisi strategis diplomasi masih terbatas. Data yang dipaparkan menunjukkan pada 2018 pegawai perempuan di Kementerian Luar Negeri RI sekitar 37 persen, sedangkan laki-laki 63 persen.
Pada periode yang sama, dari 75 duta besar, perempuan disebut hanya sekitar 13 persen. Kepala perwakilan perempuan berada di kisaran 15 persen, sedangkan keterwakilan perempuan pada posisi konsul jenderal sekitar 18 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perempuan dalam institusi belum selalu berbanding lurus dengan akses menuju posisi kepemimpinan strategis.
Kemerdekaan Perempuan Dimulai dari Keluarga hingga Industri Masa Depan
Dari perspektif psikologi positif, Dr. Fatchiah E. Kertamuda memperluas makna kemerdekaan perempuan. Menurutnya, kemerdekaan tidak semata-mata dapat diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui rasa percaya diri, harga diri, kebanggaan terhadap Indonesia, kecerdasan, kesejahteraan keluarga, dan wellbeing masyarakat.
Keluarga menjadi salah satu lingkungan penting dalam membangun kapasitas tersebut. Sebagai ruang pertama tempat anak belajar dan berkembang, keluarga memiliki peran dalam membentuk kepercayaan diri serta kemampuan seseorang menghadapi lingkungan sosial.
Fatchiah menyoroti lima elemen dalam perspektif psikologi positif, yakni positive emotion, engagement, hubungan yang sehat, kebermaknaan atau meaningful, serta accomplishment. Kelima aspek tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesejahteraan individu dan keluarga.
Sementara itu, Hendriana Werdaningsih, Ph.D., mengarahkan pembahasan pada masa depan dunia kerja melalui konsep craftsmanship. Perkembangan teknologi, menurutnya, tidak selalu berarti menghilangkan pekerjaan berbasis keterampilan.
Sebaliknya, craftsmanship berpotensi berkembang seiring dukungan teknologi dan menjadi alternatif dari pola produksi massal. Konsep tersebut menggabungkan keterampilan, karakter, kreativitas, passion, kolaborasi komunitas, serta nilai personal pada sebuah produk.
Perspektif tersebut menempatkan perempuan bukan hanya sebagai konsumen atau tenaga kerja, tetapi juga sebagai pencipta nilai dalam industri yang semakin mengutamakan kreativitas dan sentuhan manusia.
Rangkaian pemikiran dalam forum Perempuan Paramadina menunjukkan bahwa refleksi 81 tahun kemerdekaan Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah terkait kesetaraan gender. Kemajuan partisipasi perempuan di bidang ekonomi dan sosial perlu diikuti dengan perluasan akses menuju posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Dengan demikian, kemerdekaan perempuan tidak berhenti pada kesempatan untuk berpartisipasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan perempuan memiliki ruang yang setara untuk memimpin, menentukan kebijakan, berkontribusi dalam perekonomian, membangun keluarga yang sehat, serta mengambil bagian dalam industri masa depan. (usm/hdl)

7 hours ago
10


































