Pertamina Hulu Indonesia Zona 9 Jangkau 750 Warga Lewat Program CSR Berkelanjutan di Kalimantan

5 hours ago 5

Balikpapan (pilar.id) – Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Zona 9 terus memperkuat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Pada semester pertama 2026, rangkaian program tersebut telah menjangkau lebih dari 750 penerima manfaat langsung di sekitar wilayah operasi hulu migas perusahaan di Kalimantan.

Program PPM tersebut dijalankan melalui sejumlah anak perusahaan dan entitas di bawah PHI Zona 9, yakni PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field, PEP Sangasanga Field, PEP Tanjung Field, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Program pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan kesejahteraan warga dengan memanfaatkan potensi lokal. Bidang yang disentuh mencakup ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, hingga penanganan bencana.

General Manager Zona 9 PHI, Dadang Soewargono, mengatakan keberadaan masyarakat yang berdaya dan mandiri serta lingkungan yang lestari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan operasi perusahaan.

Menurut Dadang, pelaksanaan TJSL melalui program PPM dirancang agar tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mendorong peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Environment, Social, Governance (ESG) dalam operasi hulu migas yang berkaitan dengan dukungan terhadap ketahanan energi nasional.

Dorong Ekonomi Lokal dan Pertanian Berkelanjutan

Di PEP Tanjung Field, pemberdayaan masyarakat difokuskan antara lain pada pengembangan ekonomi yang berbasis potensi lokal. Sejumlah program yang dijalankan meliputi SEKARA JIRAK, LESTARI Belimbing, BASMA, K-INTEGRA, dan Bintang Borneo.

Program-program tersebut menghasilkan sejumlah perkembangan, mulai dari lahirnya produk amplang ikan Haruan hingga peningkatan kapasitas usaha kelompok. Produk amplang tersebut tercatat memberikan keuntungan kelompok hingga 30 persen.

Selain pengembangan produk, program juga diarahkan untuk memperkuat legalitas usaha, mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan melalui penguatan kapasitas masyarakat dan pemanfaatan teknologi tepat guna.

Sementara itu, PEP Sangatta Field mengembangkan Program Bintang Pertiwi dan ECO-STEP. Keduanya diarahkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

Melalui Bintang Pertiwi, masyarakat mengembangkan usaha pengolahan jamur, amplang, dan hortikultura. Salah satu kelompok penerima manfaat bahkan mencatatkan penghasilan bersih lebih dari Rp24 juta.

Adapun ECO-STEP mendorong penggunaan pupuk semi-organik, pengembangan hidroponik, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Program tersebut meningkatkan pendapatan petani hingga sekitar Rp1 juta-Rp2 juta per orang. Program ini melibatkan 20 petani.

Selain peningkatan pendapatan, pemanfaatan pupuk NPK juga berhasil menekan biaya produksi hingga Rp5 juta dalam setiap siklus panen.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak hanya diarahkan pada peningkatan pendapatan, tetapi juga efisiensi biaya dan penguatan praktik usaha yang lebih berkelanjutan.

Pendidikan, Kesehatan hingga Penguatan UMKM

Di wilayah kerja PEP Sangasanga Field, program PPM mencakup pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pengembangan keterampilan.

Sebanyak 165 pelajar mengikuti Kelas Bahasa Inggris Kota Juang Sangasanga. Di bidang lingkungan, 105 siswa memperoleh edukasi melalui Green School Movement.

Sementara pada sektor kesehatan, sebanyak 54 balita berisiko stunting mendapatkan intervensi gizi melalui Prokesmas Puja.

PEP Sangasanga Field juga memberikan ruang praktik bagi alumni pelatihan barber atau cukur rambut. Fasilitas tersebut ditujukan agar keterampilan yang telah diperoleh peserta dapat terus dikembangkan dan berpotensi menjadi sumber penghasilan.

Di sisi lain, PHSS menjalankan program PPM dengan cakupan yang lebih luas, meliputi pengembangan ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan infrastruktur sosial.

Pada sektor ekonomi, dukungan diberikan melalui pengembangan UMKM dan pariwisata lewat Program Jagoan Usaha PHSS. Pemberdayaan juga menyasar peningkatan kapasitas produksi pertanian, perikanan, dan peternakan.

Di sektor layanan dasar, PHSS mendukung peningkatan akses air bersih dan layanan kesehatan, termasuk penguatan fasilitas pendidikan dan Posyandu. Pembangunan serta rehabilitasi infrastruktur juga menjadi bagian dari program yang dijalankan.

Program pemberdayaan keterampilan turut dilanjutkan melalui pendampingan alumni pelatihan barista dan barber. PHSS juga memperkuat Program BIOKOSMO serta meningkatkan kompetensi masyarakat melalui pelatihan dan sertifikasi.

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengatakan program PPM yang dijalankan PHI bersama anak perusahaan dan afiliasinya disesuaikan dengan potensi serta kebutuhan setiap wilayah.

PHI, menurut Dony, setiap tahun menjalankan lebih dari 100 program PPM yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah di sekitar wilayah operasi perusahaan di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Pelibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi salah satu pendekatan utama dalam menjaga keberlanjutan program. Masyarakat dan pemerintah daerah dilibatkan sejak pelaksanaan program agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan bersama.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep creating shared value, yakni menciptakan manfaat bersama antara perusahaan dan masyarakat sekaligus membangun fondasi agar program pemberdayaan tidak berhenti ketika bantuan awal selesai diberikan.

Melalui berbagai program tersebut, PHI Zona 9 berupaya menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian penting dalam proses pemberdayaan. Penguatan kapasitas, peningkatan akses, pengembangan usaha, dan pemanfaatan potensi lokal menjadi strategi untuk mendorong kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasi hulu migas.

Bagi perusahaan, kesinambungan program pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan sekaligus mendukung keberlanjutan operasi migas di Kalimantan. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |