Permata Bank Catat Laba Bersih Tumbuh 16,6 Persen di Awal 2026, Kredit dan Likuiditas Tetap Solid

23 hours ago 13

Jakarta (pilar.id) – PT Bank Permata Tbk atau Permata Bank membuka tahun 2026 dengan kinerja positif dan berkelanjutan. Hingga kuartal pertama, laba bersih bank tercatat tumbuh 16,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), didorong oleh peningkatan pendapatan non-bunga sebesar 11,9% YoY.

Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari penyaluran kredit yang naik 2,8% YoY menjadi Rp161 triliun per akhir Maret 2026. Strategi ekspansi dilakukan secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika ekonomi global.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan konsistensi strategi dan ketahanan bank dalam menghadapi tantangan pasar. Ia menyebut penguatan permodalan, likuiditas, serta fokus pada kebutuhan nasabah menjadi faktor utama dalam menjaga kinerja.

Dukungan dari Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali turut memperkuat konektivitas regional dan jaringan global Perseroan.

Likuiditas dan Permodalan Jadi Penopang Utama

Fundamental Permata Bank tetap kuat, tercermin dari rasio Loan-to-Deposit (LDR) yang berada di level 87,1%, meningkat dari 83,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, indikator likuiditas menunjukkan kondisi yang sangat memadai. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 267,4% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di 122,9%, jauh di atas ambang batas minimum regulasi.

Di sisi pendanaan, rasio dana murah (CASA) meningkat signifikan menjadi 65,5%, menandakan efisiensi struktur pendanaan bank yang semakin baik.

Permodalan juga menguat dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 33,9% dan CET-1 di level 25,9%. Posisi ini menempatkan Permata Bank sebagai salah satu bank dengan permodalan terkuat di Indonesia, sekaligus memberikan ruang ekspansi bisnis ke depan.

Kualitas Aset Terjaga, Segmen Korporasi Jadi Motor Kredit

Pertumbuhan kredit Permata Bank terutama didorong oleh segmen korporasi yang naik 6,5% YoY menjadi Rp98,2 triliun. Sementara segmen komersial tumbuh 1,8% YoY menjadi Rp19,7 triliun.

Di tengah ekspansi tersebut, kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 2,2%, dengan Loan at Risk (LAR) sebesar 6,4%. Bank juga menjaga pencadangan secara konservatif dengan coverage ratio yang tinggi.

Langkah mitigasi risiko terus dilakukan melalui restrukturisasi kredit, litigasi, hingga optimalisasi penjualan aset untuk menjaga stabilitas portofolio.

Unit Syariah dan Ekosistem Strategis Dorong Pertumbuhan

Kinerja positif juga datang dari Permata Bank Syariah yang mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp198,4 miliar, tumbuh 5,3% YoY. Pertumbuhan ini ditopang efisiensi operasional dan peningkatan pendapatan.

Melalui inisiatif “Syariah untuk Semua”, bank berupaya memperluas inklusi keuangan syariah dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan bagi berbagai segmen masyarakat.

Selain itu, Permata Bank aktif memperkuat ekosistem melalui kolaborasi strategis, termasuk dukungan terhadap perayaan budaya seperti Adeging Mangkunegaran ke-269. Kegiatan ini mencakup berbagai agenda seperti Mangkunegaran Run 2026 dan bazar UMKM, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Secara keseluruhan, kinerja kuartal pertama 2026 menunjukkan Permata Bank berada di jalur pertumbuhan yang sehat dengan fondasi kuat. Kombinasi strategi kredit selektif, likuiditas tinggi, serta ekspansi ekosistem dinilai menjadi kunci menjaga profitabilitas berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |