Sesar Aktif Surabaya Bukan Patahan Baru, Warga Diimbau Tetap Tenang dan Kenali Mitigasi Gempa

1 day ago 18

Surabaya (pilar.id) – Masyarakat Kota Surabaya diimbau tidak panik menyikapi keberadaan dua segmen sesar aktif yang melintasi wilayah Kota Pahlawan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menegaskan keberadaan sesar aktif tidak berarti gempa akan segera terjadi, tetapi menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.

Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa sesar aktif merupakan bagian dari kondisi geologi yang harus dikenali risikonya. Menurut dia, kesiapsiagaan menjadi tanggung jawab bersama karena kemampuan menghadapi bencana dimulai dari kesadaran setiap individu.

Sesar yang berada di wilayah Surabaya merupakan bagian dari jalur Sesar Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Di wilayah Surabaya, jalur tersebut terbagi menjadi dua segmen, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru.

Irvan menekankan bahwa keberadaan sesar aktif tidak dapat dimaknai sebagai pertanda gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan bencana.

Pemkot Surabaya melalui BPBD, lanjut Irvan, secara rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kebencanaan. Kegiatan tersebut menyasar berbagai lingkungan, mulai dari kawasan padat penduduk, sekolah hingga perkantoran.

Edukasi dilakukan sebagai bagian dari mitigasi agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan sebelum, ketika dan setelah terjadi bencana. BPBD juga terus mendorong masyarakat memperoleh informasi kebencanaan melalui sumber resmi, terutama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD.

Di sisi lain, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan, Rozikan, menjelaskan bahwa sesar yang teridentifikasi di Surabaya bukan merupakan patahan yang baru terbentuk.

Berdasarkan pemutakhiran data geologi, geofisika dan geodesi yang dipublikasikan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada 2017 dan 2024, struktur tersebut merupakan bagian dari struktur geologi purba yang kembali teridentifikasi sebagai sesar aktif.

Rozikan menjelaskan, Segmen Surabaya dan Waru merupakan bagian dari zona lipatan dan patahan Kendeng atau thrust zone yang memanjang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Berdasarkan peta PuSGen 2024 yang disampaikan Rozikan, Segmen Surabaya memiliki magnitudo maksimum sekitar 6,7, sedangkan Segmen Waru mencapai 6,8. Kedua segmen tersebut juga memiliki laju pergerakan yang berbeda.

Segmen Surabaya tercatat memiliki pergerakan sekitar 0,5 milimeter per tahun, sedangkan Segmen Waru sekitar 1 milimeter per tahun. Data tersebut menggambarkan aktivitas geologi yang perlu menjadi bagian dari perencanaan mitigasi, bukan sebagai prediksi bahwa gempa akan segera terjadi.

Rozikan menjelaskan, apabila terjadi gempa dengan kekuatan maksimum dari kedua segmen tersebut, guncangan di wilayah terdampak dapat mencapai intensitas VI hingga VIII Modified Mercalli Intensity (MMI). Tingkat intensitas tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan yang dirancang tahan gempa, sementara bangunan biasa yang tidak memiliki struktur memadai dapat mengalami kerusakan lebih berat hingga roboh.

Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban maupun kerusakan saat gempa terjadi. Salah satu langkah awal yang ditekankan BMKG adalah memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.

Masyarakat dapat memantau informasi gempa melalui aplikasi Info BMKG maupun kanal resmi Pemkot Surabaya. Selain itu, warga dianjurkan mengikuti edukasi kebencanaan agar mengetahui prosedur penyelamatan diri dan memahami kondisi lingkungan masing-masing.

Rozikan juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip drop, cover, hold on ketika gempa terjadi. Prinsip tersebut mencakup tindakan segera untuk merunduk, melindungi kepala dan tubuh, berlindung di bawah meja atau tempat yang kokoh, serta berpegangan hingga guncangan berhenti.

Pengetahuan mengenai jalur evakuasi juga tidak kalah penting. Warga perlu mengenali rambu evakuasi, jalur keluar dan titik kumpul yang telah ditentukan di lingkungan tempat tinggal, sekolah, tempat kerja maupun fasilitas publik.

Dengan demikian, keberadaan sesar aktif di Surabaya perlu disikapi melalui kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Pemerintah daerah dan BMKG terus mendorong peningkatan literasi kebencanaan agar masyarakat mampu mengambil keputusan yang tepat apabila gempa benar-benar terjadi.

Bagi masyarakat, langkah paling penting adalah memahami potensi risiko, menyiapkan diri dan keluarga, mengenali jalur evakuasi serta mengikuti informasi dari sumber resmi. Mitigasi yang dilakukan sejak dini menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak bencana yang tidak dapat dipastikan kapan terjadi. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |