Khofifah Ajak Muslimat NU Perkuat Peran Perempuan sebagai Madrasah Ula dan Penggerak Perdamaian Dunia

1 day ago 19

Tarakan (pilar.id) – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat peran perempuan dalam membina generasi bangsa dan mendorong terciptanya perdamaian dunia.

Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri peringatan Maulidurrasul dan Harlah ke-80 Muslimat NU Pengurus Wilayah Kalimantan Utara di Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/9/2026). Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang dan ratusan warga Muslimat NU dari berbagai wilayah di Kalimantan Utara.

Khofifah menilai momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan delapan dekade Muslimat NU tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Peringatan tersebut harus menjadi pengingat bagi kader untuk menghidupkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat akhlak, serta meningkatkan kebermanfaatan organisasi bagi masyarakat.

Menurut Khofifah, perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi sejak dari lingkungan keluarga. Ibu, khususnya, merupakan madrasah ula atau sekolah pertama bagi anak-anak karena nilai agama, akhlak, karakter, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada sesama pertama kali diperkenalkan melalui keluarga.

Karena itu, ia mendorong kader Muslimat NU untuk terus menjalankan peran pendidikan tersebut secara konsisten, termasuk dalam membina putra-putri bangsa di Kalimantan Utara. Nilai-nilai yang ditanamkan keluarga dinilai menjadi fondasi penting bagi terbentuknya generasi yang berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial.

Khofifah juga mengaitkan peran tersebut dengan seruan perdamaian dunia. Ia menegaskan bahwa upaya menciptakan perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun negara, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat luas, termasuk organisasi perempuan.

Muslimat NU, menurut Khofifah, memiliki ruang strategis untuk menyuarakan perdamaian sekaligus menanamkan nilai persaudaraan, toleransi, kemanusiaan, dan kehidupan yang harmonis dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.

Ia juga mendorong kader Muslimat NU memperkuat doa bagi keluarga dan generasi penerus. Salah satu doa yang disampaikan adalah permohonan agar keluarga dan keturunan menjadi penyejuk hati serta mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Khofifah menyebut doa sebagai salah satu kekuatan penting masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pencapaian seseorang tidak hanya lahir dari ikhtiar pribadi, tetapi juga dapat berjalan beriringan dengan doa keluarga dan lingkungan.

Selain aspek keluarga dan perdamaian, Khofifah menyoroti penguatan kapasitas Muslimat NU dalam berbagai bidang. Salah satunya melalui program paralegal yang telah diikuti lebih dari 2.600 kader. Para peserta disebut telah menjalani proses pendidikan dan memperoleh sertifikasi.

Keberadaan paralegal tersebut menunjukkan bahwa kiprah Muslimat NU tidak terbatas pada aktivitas keagamaan dan sosial, tetapi juga berkembang pada penguatan kapasitas perempuan dalam membantu masyarakat memperoleh akses terhadap pendampingan dan pemahaman hukum.

Khofifah juga menyampaikan perkembangan kapasitas akademik di lingkungan Muslimat NU. Ia menyebut terdapat 206 profesor perempuan yang tergabung dalam organisasi tersebut. Menurutnya, keberadaan akademisi dan ulama perempuan menjadi modal penting untuk memperkuat kontribusi perempuan Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.

Ia berharap kapasitas keilmuan tersebut terus berkembang sehingga Muslimat NU dapat menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kemampuan akademik dan keagamaan yang kuat.

Dalam peringatan Harlah ke-80 tersebut, Khofifah pada akhirnya mengajak seluruh kader Muslimat NU menjadikan organisasi sebagai gerakan yang semakin memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat pengabdian, menurut dia, perlu diwujudkan melalui kerja nyata di tengah masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi perjalanan delapan dekade Muslimat NU. Menurut Zainal, usia 80 tahun merupakan penanda panjangnya sejarah pengabdian organisasi perempuan NU dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Zainal menilai peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat iman, akhlak, semangat pengabdian, serta keteladanan terhadap Rasulullah SAW.

Ia juga menekankan posisi perempuan sebagai madrasah ula bagi anak-anak. Peran tersebut dinilai penting dalam membentuk generasi muda Kalimantan Utara yang memiliki fondasi moral dan karakter kuat.

Rangkaian kegiatan di Tarakan diawali dengan lantunan Shalawat Nabi. Suasana khidmat tersebut menjadi bagian dari momentum silaturahmi sekaligus memperkuat semangat pengabdian warga Muslimat NU di Kalimantan Utara.

Memasuki usia 80 tahun, Muslimat NU diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi pengabdian yang telah dibangun selama beberapa dekade, tetapi juga memperluas kontribusi perempuan dalam pendidikan keluarga, penguatan masyarakat, pengembangan keilmuan, pendampingan sosial, serta gerakan perdamaian.

Bagi Khofifah, berbagai peran tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yakni memastikan keberadaan Muslimat NU terus memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat, masyarakat, dan bangsa. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |