Kemenperin Perkuat Industri Agro, Dorong Rempah hingga Sagu Tembus Pasar Ekspor Global

1 day ago 13

Jakarta (pilar.id) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat daya saing industri agro nasional melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan kompetensi pelaku usaha, dan percepatan hilirisasi. Langkah ini diarahkan agar komoditas agro Indonesia tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk industri bernilai tambah tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang menjadi modal strategis dalam pengembangan industri agro. Potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan industri untuk menghasilkan produk berkualitas, memenuhi standar internasional, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar ekspor.

Menurut Agus, persaingan pasar global semakin ketat sehingga kemampuan industri dalam mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah menjadi faktor penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok dunia.

Selain kualitas produk, perusahaan juga dituntut memahami karakteristik pasar tujuan, memenuhi ketentuan regulasi, serta membangun kredibilitas di hadapan pembeli internasional. Aspek mutu, keamanan pangan, dan keberlanjutan juga semakin menentukan daya saing produk di pasar global.

Penguatan kapasitas tersebut salah satunya dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Ekspor yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta.

Bimtek tersebut diikuti 20 peserta yang berasal dari 16 perusahaan industri dengan fokus komoditas rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu. Keempat sektor tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai tambah dan memperluas pasar internasional.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan, Bimtek Manajemen Ekspor dirancang untuk meningkatkan kemampuan praktis pelaku usaha dalam menyusun dan menjalankan strategi ekspor yang sesuai dengan dinamika perdagangan internasional.

Materi pelatihan mencakup pemanfaatan market intelligence untuk mengidentifikasi peluang pasar serta mendukung pengambilan keputusan bisnis berbasis data. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai quality assurance dan food safety agar produk mampu memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.

Penguatan aspek keberlanjutan turut menjadi bagian penting dalam pelatihan. Kemenperin membekali peserta dengan kemampuan menyusun Sustainability Company Profile dan Sustainability Pitch Deck. Kedua instrumen tersebut dapat digunakan perusahaan untuk menyampaikan komitmen terhadap aspek lingkungan dan tata kelola kepada calon mitra maupun pembeli internasional.

Putu mengatakan, kecenderungan pasar internasional menunjukkan semakin pentingnya aspek keberlanjutan dalam keputusan pembelian. Karena itu, industri nasional tidak cukup hanya menawarkan produk berkualitas, tetapi juga harus mampu menunjukkan proses bisnis yang bertanggung jawab.

Pelaksanaan Bimtek tidak hanya mengandalkan penyampaian materi secara teoritis. Kemenperin mengombinasikan diskusi kelompok, berbagi pengalaman ekspor, analisis studi kasus, dan lokakarya penyusunan materi promosi.

Pendekatan tersebut memungkinkan peserta menguji pengetahuan yang diperoleh melalui persoalan bisnis yang relevan sekaligus menghasilkan dokumen strategi ekspor yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan perusahaan.

Menurut Putu, peningkatan kompetensi manajemen ekspor menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri agro yang semakin berorientasi pada pasar internasional. Kesiapan perusahaan dalam membaca peluang, memahami regulasi negara tujuan, dan mengomunikasikan keunggulan produk menjadi faktor penting untuk memperluas jejaring bisnis global.

Kemenperin berharap penguatan kemampuan pelaku industri tersebut dapat mendorong peningkatan nilai tambah produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi industri agro Indonesia.

Komoditas rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu menjadi bagian dari potensi tersebut. Pengembangannya diarahkan agar tidak sekadar dipasarkan dalam bentuk komoditas, tetapi diolah menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan daya saing di pasar internasional.

Upaya tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi industri yang mendorong Indonesia meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam di dalam negeri. Dengan penguatan teknologi, kualitas sumber daya manusia, standar produk, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar, industri agro diharapkan mampu mengambil posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok global.

Putu menegaskan, hilirisasi, peningkatan kualitas, penguatan sumber daya manusia, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar global perlu dilakukan secara bersamaan. Sinergi berbagai aspek tersebut dinilai menjadi kunci agar semakin banyak produk industri agro Indonesia dikenal dan diterima konsumen maupun pembeli internasional.

Dengan strategi tersebut, Kemenperin optimistis industri agro dapat semakin berperan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat ekspor produk bernilai tambah dan daya saing industri Indonesia di pasar dunia. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |