Ringkasan Berita
- Goldman Sachs menilai volatilitas tinggi bisa menahan pembelian emas oleh bank sentral.
- Harga emas sempat menembus US$5.500 per ounce sebelum terkoreksi.
- Bank sentral membeli sekitar 900 ton emas pada 2025, lebih rendah dari dua tahun sebelumnya.
- Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi ke US$5.400 pada akhir 2026.
Jakarta (pilar.id) – Lonjakan dan fluktuasi tajam harga emas dalam beberapa waktu terakhir dinilai berpotensi memperlambat laju pembelian oleh bank sentral global. Hal tersebut disampaikan analis komoditas Goldman Sachs, yang menilai volatilitas pasar membuat sebagian otoritas moneter memilih menunggu stabilisasi harga.
Dalam laporan riset yang ditulis analis Lina Thomas dan Daan Struyven, Goldman Sachs menyebut manajer cadangan devisa bank sentral masih memandang emas sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan keuangan. Namun, mereka cenderung menunda akumulasi hingga pergerakan harga lebih stabil.
Harga Emas Sempat Cetak Rekor
Bulan lalu, harga emas sempat menembus rekor historis di atas US$5.500 per ounce. Kenaikan ini tidak hanya didorong oleh investor ritel dan institusi swasta, tetapi juga pembelian besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, awal bulan ini harga sempat terkoreksi ke kisaran US$4.400 sebelum kembali menguat. Pada perdagangan Senin pukul 10.00 waktu setempat, harga emas tercatat di level US$5.167 per ounce.
Kenaikan volatilitas dinilai dipicu oleh meningkatnya permintaan diversifikasi dari sektor swasta, yang sebagian besar tercermin melalui struktur opsi emas. Instrumen derivatif ini berpotensi memperbesar fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Tren Pembelian Bank Sentral Melambat
Berdasarkan data World Gold Council, bank sentral secara neto membeli sekitar 1.000 ton emas pada 2023 dan 2024. Angka tersebut turun menjadi sekitar 900 ton pada 2025, meskipun harga beli rata-rata lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya.
Goldman Sachs menilai sebagian bank sentral di negara berkembang menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian aktif pada level harga saat ini, walaupun prospek jangka panjang tetap positif.
Dampak Konflik Rusia-Ukraina
Sejak pembekuan cadangan devisa Rusia akibat konflik dengan Ukraina pada 2022, banyak bank sentral mulai mengevaluasi kembali risiko kepemilikan aset berbasis dolar AS. Peristiwa tersebut mendorong peningkatan alokasi emas sebagai alternatif cadangan devisa.
Goldman Sachs menilai latar belakang struktural ini belum berubah. Jika permintaan diversifikasi dari sektor swasta tidak meningkat tajam, volatilitas pasar diproyeksikan akan mereda secara bertahap dan pembelian bank sentral bisa kembali meningkat seiring pertumbuhan pada 2025.
Proyeksi Harga Emas 2026
Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$5.400 per ounce pada akhir 2026. Proyeksi ini juga didukung oleh potensi peningkatan permintaan investor swasta, terutama jika Federal Reserve mulai memangkas suku bunga.
Namun, jika kekhawatiran terhadap risiko fiskal di negara-negara Barat meningkat dan arus modal terus mengalir melalui instrumen opsi, volatilitas bisa tetap tinggi. Dalam skenario tersebut, meskipun harga melonjak lebih jauh, pembelian jangka pendek oleh bank sentral dapat kembali tertahan.
Pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi kebijakan moneter global, dinamika geopolitik, serta pola diversifikasi investor institusi maupun swasta. (usm/hdl)

18 hours ago
10

















































