Ringkasan Berita
- Mahasiswa UNAIR asal Aceh, Wira Dharma Alrasyid, memilih tidak mudik pada Lebaran 2026
- Alasan utama: libur singkat dan tingginya harga tiket pesawat
- Ia merayakan Idulfitri di Surabaya bersama teman dan berencana ke Malang
- Tradisi Lebaran di Aceh tetap dirindukan, terutama membuat kue bersama keluarga
- Fenomena mahasiswa tidak mudik dipengaruhi faktor ekonomi dan waktu
- Teknologi komunikasi menjadi solusi menjaga kedekatan dengan keluarga
Surabaya (pilar.id) – Tradisi mudik saat Idulfitri menjadi momen yang dinantikan banyak masyarakat Indonesia. Namun, tidak semua perantau memilih pulang ke kampung halaman. Seorang mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) asal Aceh, Wira Dharma Alrasyid, justru memutuskan untuk merayakan Lebaran 2026 di Surabaya.
Keputusan tersebut menjadi pengalaman pertamanya menjalani Idulfitri jauh dari keluarga sejak merantau untuk menempuh pendidikan di Surabaya.
Wira mengungkapkan bahwa keputusan tidak mudik telah dipertimbangkan dengan matang. Selain waktu libur yang relatif singkat, kondisi keluarga yang sedang berada di luar Aceh turut memengaruhi pilihannya.
Faktor Biaya dan Waktu Jadi Pertimbangan
Selain faktor waktu akademik, lonjakan harga tiket pesawat menjelang Lebaran juga menjadi alasan utama. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, harga tiket pesawat domestik saat periode mudik bisa meningkat hingga 30–50 persen dibandingkan hari normal.
Kondisi ini membuat banyak mahasiswa perantau, terutama dari wilayah luar Pulau Jawa seperti Aceh, harus berpikir ulang untuk pulang kampung.
Bagi Wira, keputusan tersebut bukan hanya soal penghematan, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru selama merantau.
Mencari Makna ‘Rumah’ di Tanah Rantau
Merayakan Idulfitri tanpa keluarga menjadi tantangan tersendiri. Wira mengaku harus beradaptasi dengan suasana baru dan menciptakan kenyamanan di lingkungan perantauan.
Ia berencana melaksanakan salat Idulfitri di masjid kampus UNAIR dan menghabiskan waktu bersama teman-teman di Surabaya. Selain itu, ia juga merencanakan perjalanan ke Malang untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan rekan.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Wira melihat pengalaman ini sebagai bagian dari proses pendewasaan diri, terutama dalam menghadapi dinamika kehidupan sebagai perantau.
Rindu Tradisi Lebaran di Kampung Halaman
Meski berusaha menikmati suasana baru, Wira tetap merasakan kerinduan terhadap tradisi Lebaran di Aceh. Salah satu yang paling ia rindukan adalah kegiatan membuat kue khas bersama keluarga selama Ramadan.
Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari kebersamaan yang sulit tergantikan di perantauan.
Fenomena Mahasiswa Tidak Mudik Meningkat
Fenomena tidak mudik di kalangan mahasiswa bukan hal baru. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan keterbatasan waktu menjadi dua alasan utama generasi muda menunda perjalanan mudik.
Selain itu, perkembangan teknologi komunikasi seperti video call juga membantu mengurangi jarak emosional antara perantau dan keluarga.
Pesan untuk Sesama Perantau
Wira turut membagikan pandangannya bagi mahasiswa lain yang tidak bisa pulang saat Lebaran. Menurutnya, momen ini bisa dimanfaatkan untuk mengenal tradisi Idulfitri di daerah lain sekaligus memperluas perspektif budaya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga meski berjauhan, salah satunya melalui panggilan video.
Kisah Wira mencerminkan realitas baru di kalangan mahasiswa perantau. Lebaran tidak lagi selalu identik dengan pulang kampung, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menemukan makna kebersamaan di tempat baru. Dalam keterbatasan, pengalaman ini justru membuka ruang untuk memahami keberagaman tradisi dan memperkuat kemandirian. (usm)

15 hours ago
9

















































