Ringkasan Berita:
- Jorgen Strand Larsen menyebut enam bulan terakhir di Wolves sebagai periode yang sangat sulit.
- Ia gagal mencetak gol dari open play dalam 22 laga musim 2025-26.
- Pindah ke Crystal Palace dengan nilai £48 juta pada Januari.
- Mulai menunjukkan performa positif dengan 3 gol dan 1 assist.
- Wolves justru mengalami peningkatan performa pasca kepergiannya.
London (pilar.id) – Penyerang tim nasional Norwegia, Jorgen Strand Larsen, akhirnya angkat bicara mengenai periode sulit yang ia alami bersama Wolverhampton Wanderers sebelum hengkang pada bursa transfer musim dingin lalu.
Dalam wawancara bersama media Norwegia VG, pemain berusia 26 tahun itu menggambarkan enam bulan terakhirnya di klub Premier League tersebut sebagai fase yang sangat berat, baik secara mental maupun fisik. Kondisi tim yang terpuruk turut memperburuk situasi, di mana Wolves bahkan harus menunggu hingga awal Januari untuk meraih kemenangan pertama mereka di liga musim 2025-26.
Performa individu Strand Larsen ikut terdampak. Setelah mencetak 14 gol pada musim sebelumnya (2024-25), ia justru mengalami penurunan drastis dengan tidak mampu mencetak satu pun gol dari situasi open play dalam 22 pertandingan awal musim ini. Tekanan besar sebagai ujung tombak tim menjadi salah satu faktor yang diakui memengaruhi performanya.
Meski demikian, Strand Larsen tetap menunjukkan rasa hormat terhadap klub lamanya. Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk pergi bukan karena hilangnya rasa kepedulian, melainkan demi mencari peluang berkembang di lingkungan baru.
Kepindahan ke Crystal Palace dengan nilai transfer mencapai £48 juta menjadi titik balik dalam kariernya musim ini. Bersama klub barunya, ia mulai menemukan kembali sentuhan terbaik dengan kontribusi tiga gol dan satu assist dari 10 penampilan. Selain itu, ia juga membantu tim melaju hingga perempat final UEFA Conference League.
Dari sisi statistik, kontribusi Strand Larsen selama berseragam Wolves sebenarnya tidak bisa dianggap buruk. Ia mencatatkan total 20 gol dan tujuh assist dari 64 penampilan. Nilai transfer besar yang diterima Wolves juga dinilai sebagai keuntungan finansial signifikan, terutama menjelang kemungkinan mereka menghadapi kompetisi Championship musim depan.
Menariknya, performa Wolves justru menunjukkan peningkatan setelah kepergian sang striker. Dalam tujuh pertandingan liga setelah transfer tersebut, mereka mengumpulkan sembilan poin—catatan yang menempatkan mereka di peringkat ke-12 dalam periode tersebut. Dari sisi produktivitas, Wolves bahkan mencetak sembilan gol, sedikit lebih banyak dibanding Crystal Palace yang mencetak delapan gol dalam periode yang sama, meski memainkan satu laga lebih sedikit.
Kondisi ini menggambarkan dinamika sepak bola modern, di mana perpindahan pemain tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keseimbangan tim secara keseluruhan. Bagi Strand Larsen, langkah meninggalkan Wolves kini tampak sebagai keputusan tepat untuk menghidupkan kembali performanya di level tertinggi. (wid)

17 hours ago
14
















































