Ringkasan Berita
- Seorang anak berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia
- Peristiwa ini memicu perhatian luas terhadap isu kesehatan mental anak
- Guru Besar Sosiologi UNAIR menilai pemantauan psikologis anak masih minim, terutama di daerah terpencil
- Faktor kemiskinan, keterbatasan akses layanan, dan kurangnya dukungan sosial menjadi sorotan utama
Surabaya (pilar.id) — Indonesia kembali dikejutkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR, siswa kelas IV sekolah dasar asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa yang terjadi pada akhir Januari 2026 ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat, sekaligus memantik perhatian publik terhadap kondisi kesehatan mental anak.
Kasus tersebut pertama kali diketahui oleh warga sekitar di wilayah Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu. Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan kesehatan mental anak masih kerap luput dari perhatian, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan sosial dan psikologis.
Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Bagong Suyanto, menilai peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Ia menekankan bahwa anak-anak, khususnya yang hidup di daerah terpencil, kerap menghadapi tekanan sosial dan emosional tanpa pendampingan yang memadai.
Menurut Prof. Bagong, pemantauan kondisi psikologis anak belum menjadi prioritas di banyak lingkungan, baik di tingkat keluarga maupun komunitas. Keterbatasan layanan kesehatan mental dan minimnya literasi psikologis membuat persoalan emosional anak sering kali tidak terdeteksi sejak dini.
Dari sisi latar belakang sosial, YBR diketahui hidup dalam kondisi keluarga yang rentan. Sejak usia balita, ia tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana setelah berpisah dari ibu kandungnya, sementara ayahnya merantau ke luar daerah dan tidak kembali dalam waktu lama. Kondisi tersebut, menurut Prof. Bagong, mencerminkan realitas sosial yang dihadapi banyak anak di Indonesia.
Ia juga menyoroti tekanan ekonomi dan kemiskinan struktural sebagai faktor yang berkontribusi besar terhadap kesehatan mental anak. Situasi ekonomi yang sulit dapat memicu rasa cemas, keterasingan, dan tekanan emosional yang tidak selalu mampu diungkapkan anak secara verbal.
Lebih lanjut, Prof. Bagong mendorong penguatan community support system berbasis lokal sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Menurutnya, keterlibatan lembaga sosial, sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah sangat penting dalam membangun jaringan perlindungan anak, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan dan layanan psikologis.
Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius menempatkan kesehatan mental anak sebagai isu prioritas nasional. Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan dinilai penting agar anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, suportif, dan peduli terhadap kesejahteraan psikologis mereka.
Catatan Redaksi
Jika Anda atau orang di sekitar Anda membutuhkan dukungan kesehatan mental, segera hubungi layanan kesehatan terdekat atau saluran bantuan psikologis yang tersedia di daerah masing-masing. Mencari bantuan adalah langkah berani dan penting.

8 hours ago
5

















































