Panekasan (pilar.id) – Peran seorang guru tidak lagi sekadar mengajarkan teori di ruang kelas. Di era pendidikan vokasi yang semakin menuntut keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan, pendidik dituntut mampu menghadirkan dampak nyata bagi peserta didik dan masyarakat. Semangat itulah yang diwujudkan Meilinda Istiqomah, alumnus Program Studi Teknologi Hasil Perikanan angkatan 2015 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini mengabdikan diri sebagai guru Program Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi) di SMKN 1 Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura.
Melalui berbagai inovasi pembelajaran yang dikembangkan, Meilinda berhasil mengubah ruang belajar menjadi pusat praktik kewirausahaan yang mendorong siswa tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri.
Bagi Meilinda, pendidikan vokasi harus mampu menjawab tantangan dunia industri sekaligus membuka ruang lahirnya pelaku usaha baru. Karena itu, pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR menjadi fondasi penting dalam merancang proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga penguatan keterampilan teknis dan karakter kewirausahaan.
Menurutnya, lulusan sekolah kejuruan harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang, sekaligus memiliki keberanian untuk membangun usaha sendiri. Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai program pembelajaran berbasis praktik yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses produksi dan pengelolaan usaha.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pembentukan kelompok usaha sekolah berbasis pengolahan hasil perikanan. Unit produksi tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan ilmu yang dipelajari selama di kelas dalam kondisi nyata layaknya dunia industri.
Melalui kelompok usaha tersebut, siswa terlibat dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan baku perikanan, pengendalian mutu, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai proses bisnis sekaligus meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.
Berbagai produk inovatif berhasil dikembangkan oleh para siswa, antara lain nugget ikan, kaki naga ikan, bakso ikan, abon ikan, dan beragam olahan hasil perikanan bernilai tambah lainnya. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di lingkungan sekolah, tetapi juga telah menjangkau pasar yang lebih luas melalui pameran, bazar, kerja sama dengan instansi pemerintah, hingga menjadi salah satu produk unggulan di toko oleh-oleh khas Madura.
Keberhasilan kelompok usaha sekolah ini tidak hanya diukur dari aspek produksi dan pemasaran. Program tersebut juga menjadi media pembelajaran karakter yang mengajarkan siswa pentingnya kerja sama tim, komunikasi profesional, kreativitas, tanggung jawab, dan kemampuan memecahkan masalah.
Dampak program semakin berkembang ketika kelompok usaha sekolah SMKN 1 Tlanakan dipercaya terlibat dalam penyediaan produk pendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui kolaborasi tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam memproduksi pangan berbasis hasil perikanan yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan.
Keterlibatan dalam program tersebut memberikan wawasan baru kepada siswa mengenai pentingnya kualitas produk, proses produksi yang higienis, serta tanggung jawab sosial dalam menyediakan makanan yang akan dikonsumsi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk membentuk sumber daya manusia yang kompeten dan siap bersaing di sektor industri pangan.
Di balik berbagai capaian tersebut, Meilinda memiliki visi jangka panjang untuk menjadikan kelompok usaha sekolah sebagai unit produksi yang mandiri dan berkelanjutan. Ia berharap program tersebut dapat terus berkembang menjadi model pembelajaran berbasis proyek yang mampu melahirkan lulusan kompeten, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi.
Lebih jauh, Meilinda ingin semakin banyak siswa yang tertarik menjadi wirausahawan muda di bidang perikanan dan pengolahan hasil perikanan. Menurutnya, sektor perikanan memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
Semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia dalam menciptakan generasi muda yang mampu mengolah potensi sumber daya laut menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Kehadiran pelaku usaha muda di sektor perikanan juga diyakini dapat memperkuat rantai industri pangan nasional sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
Bagi Meilinda, menjadi alumni yang berdampak tidak diukur dari pencapaian pribadi semata. Ia memandang keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain melalui pendidikan, inovasi, dan pemberdayaan generasi muda.
Melalui dedikasinya di SMKN 1 Tlanakan, alumnus UNAIR tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi. Dari ruang kelas di Pamekasan, lahir harapan baru bagi terciptanya generasi muda yang kreatif, mandiri, dan siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan Indonesia di masa depan. (usm/hdl)

7 hours ago
8






























