Jakarta (pilar.id) – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan sinyal yang semakin positif di tengah meredanya tekanan global dan terjaganya disiplin fiskal pemerintah. Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026.
Menurut Didik, optimisme pasar mulai terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar saham yang membaik dalam beberapa waktu terakhir. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari perubahan situasi global, terutama penurunan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa harga minyak Brent yang sempat menyentuh level tinggi saat puncak konflik kini mengalami penurunan seiring meningkatnya harapan terhadap tercapainya perdamaian di kawasan tersebut. Membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai membuka peluang normalisasi perdagangan energi global, termasuk kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Selain faktor eksternal, Didik melihat kondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan tahun masih berada dalam jalur yang sehat. Berdasarkan data yang tersedia, defisit fiskal hingga Mei 2026 masih berada di kisaran 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga ruang pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih cukup aman.
Ia juga menyoroti langkah pemerintah yang mulai melakukan penyesuaian terhadap sejumlah program prioritas. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang alokasi anggarannya disebut telah disesuaikan menjadi sekitar Rp268 triliun. Menurutnya, kebijakan efisiensi dan fokus pelaksanaan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) berpotensi membuat realisasi anggaran program tersebut lebih terkendali pada semester kedua tahun ini.
Dari sisi penerimaan negara, Didik mencatat adanya perkembangan yang cukup menggembirakan. Pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau meningkat sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut, menurutnya, tidak lepas dari implementasi sistem Coretax yang mulai memberikan dampak terhadap efektivitas administrasi perpajakan. Kinerja penerimaan pajak terutama ditopang oleh kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tumbuh sekitar 41 persen secara tahunan. Selain itu, sektor perdagangan, pertambangan, dan manufaktur turut menjadi kontributor utama peningkatan penerimaan negara.
Meski mengapresiasi perbaikan sistem perpajakan, Didik mengingatkan bahwa peningkatan kepatuhan dan penerimaan pajak perlu diimbangi dengan penguatan kualitas demokrasi serta tata kelola pemerintahan. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap negara akan semakin kuat apabila peningkatan kontribusi masyarakat melalui pajak diiringi dengan transparansi dan akuntabilitas yang baik.
Pada sisi belanja negara, pemerintah dinilai tengah memperbesar peran negara melalui berbagai program sosial dan penguatan ketahanan pangan. Didik mencatat belanja ketahanan pangan meningkat signifikan secara tahunan, termasuk untuk dukungan kepada petani, subsidi pupuk, serta penguatan cadangan pangan nasional melalui Bulog.
Sementara itu, belanja subsidi dan kompensasi juga mengalami peningkatan tajam. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi realisasi Program Makan Bergizi Gratis yang hingga hampir akhir semester pertama 2026 telah mencapai Rp86,6 triliun.
Secara keseluruhan, Didik menilai prospek ekonomi Indonesia masih cukup menjanjikan apabila pemerintah mampu menjaga konsistensi kebijakan fiskal, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta membangun komunikasi publik yang kredibel. Menurutnya, disiplin fiskal yang terjaga akan menjadi fondasi penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah, penguatan pasar modal, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan pasar sebagaimana pesan yang pernah disampaikan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengenai arti penting kredibilitas kebijakan ekonomi. Dengan konsistensi kebijakan dan tata kelola yang baik, kepercayaan investor maupun pelaku pasar diyakini akan terus membaik.
Didik menegaskan bahwa membaiknya kondisi global, meningkatnya penerimaan negara, serta disiplin fiskal yang tetap terjaga dapat menjadi kombinasi kuat untuk menopang ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian. (hdl)

4 hours ago
6






























