Format Baru Genera-Z Berbakti 2026 Uji Mental Finalis, Bakti BCA Dorong Solusi Nyata untuk Desa Wisata

4 hours ago 6

Jakarta (pilar.id) – Program Genera-Z Berbakti 2026 menghadirkan perubahan signifikan pada babak final dengan menerapkan sistem penjurian yang lebih dinamis dan kompetitif. Skema baru tersebut tidak hanya menguji kualitas ide para peserta, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, komunikasi, hingga kerja sama tim dalam menghadapi tantangan secara langsung.

Program call for proposal yang digagas Bakti BCA ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menawarkan solusi inovatif bagi pengembangan desa wisata binaan. Tahun ini, delapan tim finalis harus beradaptasi dengan format yang berbeda dibandingkan edisi sebelumnya.

Para finalis dinilai oleh tiga panelis yang berasal dari latar belakang berbeda, yakni Duta Bakti BCA Nicholas Saputra, entertainer sekaligus sociopreneur Cinta Laura Kiehl, serta ilmuwan dan wirausaha sosial Tri Mumpuni.

Tiga Tahapan Penjurian dengan Aturan Baru

Babak final terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu Idea Pitch, Think Tank, dan Head to Head.

Pada sesi Idea Pitch, setiap tim memperoleh waktu 10 menit untuk mempresentasikan rancangan program yang akan diterapkan di desa wisata tujuan. Selanjutnya, pada tahap Think Tank, peserta harus menjawab pertanyaan panelis hanya dalam waktu 60 detik, disusul kesempatan memberikan respons tambahan selama maksimal 30 detik apabila diperlukan.

Sementara itu, tahap Head to Head menjadi arena adu argumentasi antartim. Dalam sesi ini, finalis saling mengajukan pertanyaan, mempertahankan gagasan, sekaligus menguji kekuatan konsep yang mereka usulkan.

Perubahan paling mencolok dibandingkan penyelenggaraan tahun lalu adalah aturan bahwa setiap tahapan wajib diwakili oleh anggota tim yang berbeda. Dengan demikian, seluruh anggota memiliki kesempatan yang sama untuk tampil di depan panelis sekaligus menunjukkan kapasitas masing-masing.

Aturan tersebut sempat mengejutkan sejumlah peserta karena memerlukan pembagian strategi yang matang sejak awal kompetisi.

Salah satu finalis, Tessa dari tim DESA HIDUP perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengaku sempat diliputi rasa gugup ketika mengetahui format baru tersebut. Namun, ia menilai pengalaman tampil di hadapan panelis justru menjadi salah satu momen paling berharga karena mampu menjawab berbagai pertanyaan dan menyampaikan gagasan tim dengan baik.

Pengalaman serupa juga dirasakan Faruq dari tim Laskar Selasik Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, rasa gugup sempat muncul sebelum presentasi, tetapi akhirnya ia memilih fokus menyampaikan substansi proposal daripada memikirkan hasil akhir kompetisi.

Bakti BCA Dorong Mahasiswa Hadirkan Solusi yang Realistis

Melalui perubahan format ini, Bakti BCA ingin mendorong mahasiswa tidak hanya menghasilkan proposal yang inovatif, tetapi juga memiliki kemampuan mempertahankan ide serta menyesuaikannya dengan tantangan di lapangan.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan kedelapan finalis yang berhasil mencapai tahap akhir telah menunjukkan potensi yang besar. Menurutnya, format kompetisi yang lebih menantang diharapkan mampu menggali kemampuan terbaik setiap peserta sehingga gagasan yang lahir benar-benar siap diterapkan di desa wisata binaan.

Dari delapan tim finalis, hanya empat tim terbaik yang akan memperoleh kesempatan merealisasikan program mereka di empat desa wisata binaan Bakti BCA, yakni Desa Wisata Kreatif Terong di Kabupaten Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, serta Desa Wisata Kakaskasen Dua di Kota Tomohon.

Dalam kesempatan yang sama, panelis Cinta Laura Kiehl juga memberikan masukan kepada para peserta agar tetap menyusun proposal yang sederhana namun realistis. Ia menilai pendekatan bertahap akan lebih efektif dibandingkan merancang program yang terlalu besar tetapi sulit diwujudkan maupun dipertahankan keberlanjutannya.

Melalui penyelenggaraan Genera-Z Berbakti 2026, Bakti BCA berharap semakin banyak mahasiswa mampu menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan desa wisata sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi lokal. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |