Gubernur Khofifah Salurkan 120 Rit Air Bersih untuk 38.270 KK Terdampak Kekeringan di Kabupaten Blitar

10 hours ago 10

Blitar (pilar.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan 120 rit air bersih untuk masyarakat Kabupaten Blitar yang terdampak kekeringan pada musim kemarau. Bantuan tersebut ditujukan bagi 38.270 kepala keluarga (KK) atau sekitar 98.946 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan sebagai upaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Penyaluran bantuan dipusatkan di Dusun Rampalombo, Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Sabtu (5/9). Dalam kegiatan tersebut, Khofifah didampingi Bupati Blitar Rijanto serta Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto.

Selain mendistribusikan air bersih, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD juga menyalurkan 90 unit tandon air berkapasitas 1.200 liter dan 250 jerigen berkapasitas 15 liter untuk mendukung penyimpanan air bagi warga.

Adapun tujuh kecamatan yang menjadi sasaran distribusi bantuan meliputi Bakung, Binangun, Kademangan, Panggungrejo, Sutojayan, Wates, dan Wonotirto. Wilayah-wilayah tersebut mengalami penurunan ketersediaan air bersih akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Khofifah mengatakan pemerintah provinsi terus memperkuat langkah penanganan kekeringan dengan memastikan distribusi air bersih menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari sinergi antara Pemprov Jawa Timur dengan pemerintah kabupaten dalam merespons dampak musim kemarau.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini sudah terdapat 24 kabupaten/kota di Jawa Timur yang menetapkan status kedaruratan akibat musim kemarau. Karena itu, BPBD Jawa Timur telah menyiapkan berbagai skema distribusi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kering berlangsung.

Khusus di Desa Margomulyo, bantuan air bersih sebanyak 17.000 liter disalurkan kepada 40 kepala keluarga atau 162 jiwa. Warga di lokasi tersebut juga menerima tiga unit tandon berkapasitas 1.200 liter dan 40 jerigen berkapasitas 15 liter untuk mempermudah penyimpanan air.

Menurut Khofifah, bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan memperoleh air bersih. Kekeringan yang berkepanjangan telah berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehingga diperlukan tambahan pasokan air melalui distribusi BPBD.

Selain distribusi air bersih, Pemprov Jawa Timur juga menyiapkan langkah mitigasi lain untuk menghadapi dampak kekeringan. Salah satunya dengan mengoordinasikan kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan.

Khofifah menjelaskan, berbeda dengan OMC saat musim hujan yang bertujuan mengurangi intensitas hujan di wilayah tertentu, pada musim kemarau operasi tersebut diarahkan untuk memaksimalkan potensi awan agar dapat menghasilkan hujan di kawasan yang mengalami kekeringan.

Di sisi lain, gubernur juga mengajak masyarakat memperbanyak ikhtiar melalui pelaksanaan Salat Istisqa sebagai bentuk doa bersama memohon turunnya hujan. Menurutnya, upaya spiritual dapat berjalan berdampingan dengan langkah-langkah teknis yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi musim kemarau.

Bantuan tersebut disambut positif oleh warga terdampak. Katinem, warga lanjut usia asal Dusun Rampalombo, mengaku selama musim kemarau sumur di wilayahnya mengalami penyusutan sehingga warga terpaksa membeli air bersih dengan biaya sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu untuk satu tandon yang hanya cukup digunakan selama beberapa hari.

Ia menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena sangat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti memasak, mandi, dan keperluan sehari-hari lainnya.

Selain bantuan air bersih, Khofifah juga menyerahkan paket sembako kepada masyarakat serta bantuan untuk anak-anak di Desa Margomulyo sebagai bagian dari upaya meringankan beban warga yang terdampak kekeringan di Kabupaten Blitar. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |