Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu terkoreksi sekitar 3,13 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di level US$59.695,46 pada pukul 13.00 WIB.
Pelemahan tersebut membuat Bitcoin kembali turun di bawah level psikologis US$60.000, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di kisaran US$58.000. Koreksi harga terjadi seiring meningkatnya tekanan dari sentimen makroekonomi global yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Salah satu pemicu utama berasal dari data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Mei yang tercatat naik 4,1 persen secara tahunan, menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi belum terkendali.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai pelemahan Bitcoin saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan sentimen makro dibanding faktor teknikal semata.
Menurut Fyqieh, meningkatnya inflasi di Amerika Serikat membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil sehingga investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko, termasuk aset kripto.
Ia juga menambahkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini masih memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan pasar saham Amerika Serikat, seperti indeks S&P 500, sehingga perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global sangat memengaruhi arah harga BTC.
Likuidasi Posisi Leverage Percepat Penurunan Harga Bitcoin
Selain faktor makroekonomi, tekanan terhadap Bitcoin juga diperburuk oleh gelombang likuidasi di pasar derivatif.
Penurunan harga yang menembus level US$60.000 memicu likuidasi besar-besaran terhadap posisi long berleverage. Kondisi tersebut menciptakan efek forced selling atau penjualan paksa yang mempercepat laju koreksi harga.
Fyqieh menjelaskan bahwa level US$60.000 merupakan area psikologis penting bagi pelaku pasar. Ketika level tersebut ditembus, sistem likuidasi otomatis pada posisi leverage ikut aktif sehingga tekanan jual semakin besar.
Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin saat ini berada dalam kondisi oversold untuk jangka pendek. Namun demikian, tren bearish dinilai masih dominan selama harga belum mampu kembali menembus area resistance di kisaran US$61.000 hingga US$62.000.
Menurutnya, level US$58.000 menjadi titik support utama yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat. Apabila level tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya technical rebound atau short squeeze menuju area US$61.000 masih terbuka.
Sebaliknya, jika tekanan jual terus berlanjut hingga menembus support tersebut, Bitcoin berpotensi melanjutkan koreksi ke kisaran US$55.000.
Arus Dana ETF Bitcoin Jadi Penentu Arah Pemulihan
Volatilitas pasar kripto diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek. Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah agenda quarterly options expiry pada 26 Juni, ketika kontrak opsi Bitcoin dalam nilai besar mencapai jatuh tempo. Peristiwa tersebut berpotensi memicu pergerakan harga yang lebih tajam, baik ke atas maupun ke bawah.
Di sisi lain, Fyqieh menilai prospek Bitcoin dalam jangka menengah masih bergantung pada kombinasi beberapa faktor, mulai dari kebijakan moneter global, kondisi pasar derivatif, hingga arus dana investor institusional.
Salah satu indikator yang dinilai penting adalah pergerakan dana pada ETF Bitcoin spot. Apabila arus keluar dana (outflow) mulai berkurang dan kembali berubah menjadi arus masuk (inflow), kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal meningkatnya kembali minat investor institusional terhadap Bitcoin.
Fyqieh menilai pasar kripto saat ini masih berada dalam fase yang rentan. Meski peluang pemulihan tetap terbuka, investor disarankan mengedepankan manajemen risiko dan mencermati perkembangan sentimen global sebelum mengambil keputusan investasi.
Secara keseluruhan, pelemahan Bitcoin mencerminkan kombinasi tekanan inflasi Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed, serta proses pelepasan posisi leverage di pasar kripto. Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar diperkirakan masih tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan support di area US$58.000, sekaligus menguji resistance pada kisaran US$61.000 hingga US$62.000 sebagai penentu arah pergerakan berikutnya. (ret/hdl)

5 hours ago
6






























