Surabaya (pilar.id) – Universitas Airlangga (UNAIR) menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Pesan tersebut disampaikan Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., saat menjadi pembina upacara peringatan HUT ke-81 RI di Halaman Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, Senin (17/8/2026).
Upacara diikuti ribuan sivitas akademika, mulai dari pimpinan universitas, senat akademik, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Peringatan kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai seremoni, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai peran perguruan tinggi dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam amanatnya, Prof. Muhammad Madyan menekankan bahwa makna kemerdekaan pada era modern telah berkembang. Kemerdekaan perlu diisi melalui kerja keras, pengabdian, penguasaan ilmu pengetahuan, serta karya dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kedaulatan Indonesia Dimulai dari Penguasaan Ilmu
Salah satu pesan utama Rektor UNAIR adalah pentingnya membangun kedaulatan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Prof. Madyan, perubahan global yang berlangsung cepat menuntut Indonesia memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri. Karena itu, penguatan kapasitas intelektual, sains, teknologi, dan inovasi menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kedaulatan bangsa.
Perspektif tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai salah satu fondasi strategis dalam membangun daya saing dan kemandirian nasional.
UNAIR juga menekankan pentingnya memastikan kemajuan pendidikan dapat diakses secara lebih luas. Prinsip keadilan dalam pendidikan, menurut Prof. Madyan, berarti tidak boleh ada anak bangsa yang kehilangan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan akibat keterbatasan akses.
Ilmu Pengetahuan Harus Berdampak bagi Masyarakat
Selain persoalan akses pendidikan, Prof. Madyan mendorong agar ilmu pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti pada ruang kelas dan laboratorium.
Pengetahuan dan hasil riset perlu diterjemahkan menjadi inovasi, produk, usaha, maupun solusi yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Orientasi tersebut sejalan dengan gagasan UNAIR sebagai Kampus Berdampak, yakni perguruan tinggi yang menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
Pendekatan itu menjadi semakin penting di tengah persoalan yang bersifat kompleks, seperti krisis iklim, ketahanan kesehatan, serta dinamika ekonomi global. Persoalan semacam itu dinilai tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan satu disiplin ilmu.
Sekolah Pascasarjana UNAIR Perkuat Kepemimpinan Kolaboratif
Semangat tersebut juga tercermin dari kehadiran jajaran pimpinan dan sivitas akademika Sekolah Pascasarjana UNAIR dalam upacara kemerdekaan.
Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk. (K), FICS, bersama Wakil Direktur 2 Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si., serta sivitas akademika dan mahasiswa turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka disebut menjadi bagian dari dukungan terhadap arah UNAIR sebagai Kampus Berdampak.
Sekolah Pascasarjana UNAIR membawa semangat School of Collaborative Leadership dengan mendorong lahirnya pemimpin yang mampu bekerja lintas disiplin.
Model tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan zaman ketika persoalan publik semakin kompleks. Keahlian akademik perlu dipertemukan dengan kebijakan publik, kebutuhan industri, dan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sejumlah bidang riset multidisiplin di lingkungan pascasarjana, antara lain tata kelola bencana, ekonomi kesehatan, hukum forensik, dan kebijakan publik, diarahkan agar dapat memasuki tahap hilirisasi dan menghasilkan solusi konkret.
Dorong UNAIR Menuju World-Class Entrepreneurial University
Arah tersebut juga berkaitan dengan transformasi UNAIR menuju World-Class Entrepreneurial University.
Dalam perspektif ini, perguruan tinggi tidak hanya diposisikan sebagai institusi yang menghasilkan lulusan untuk memasuki dunia kerja. Kampus juga diharapkan menjadi pusat penciptaan peluang, inovasi, dan solusi sosial.
Bagi UNAIR, hilirisasi riset menjadi salah satu kunci agar hasil pengembangan ilmu pengetahuan dapat memberikan dampak lebih luas. Riset multidisiplin didorong untuk keluar dari batas-batas akademik dan diterapkan dalam penyelesaian persoalan riil masyarakat.
Dengan demikian, konsep Indonesia yang makmur diterjemahkan bukan sekadar melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan perguruan tinggi mengubah potensi akademik menjadi manfaat sosial dan ekonomi yang nyata serta berkelanjutan.
Kemerdekaan Dimaknai Melalui Ilmu, Kolaborasi, dan Pengabdian
Menutup amanatnya, Prof. Muhammad Madyan mengajak seluruh keluarga besar UNAIR menjadikan peringatan HUT ke-81 RI sebagai momentum memperkuat komitmen bersama.
UNAIR didorong menjadi ruang kolaborasi bagi tumbuhnya gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus tempat lahirnya generasi pemimpin yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia.
Melalui semangat kemerdekaan tersebut, kontribusi perguruan tinggi ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Bagi UNAIR, perjuangan di era modern diwujudkan melalui ilmu pengetahuan yang berdampak, kepemimpinan kolaboratif, serta karya yang memberikan manfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. (usm)

17 hours ago
14







































