Surabaya (pilar.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersiap menggelar Lomba Kampung Pancasila mulai September hingga Desember 2026. Kompetisi tersebut akan melibatkan seluruh RW di 153 kelurahan dengan penilaian yang menitikberatkan pada empat pilar, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan seluruh RW di Kota Surabaya diharapkan mengikuti kompetisi bersama seluruh RT yang berada di wilayah masing-masing.
“Lomba Kampung Pancasila itu sendiri nanti tetap basis penilaiannya ada pada empat pilar,” kata Irvan, Selasa (18/8/2026).
Dari empat pilar tersebut, aspek lingkungan dan ekonomi akan mendapatkan bobot penilaian lebih besar. Pemkot Surabaya mendorong agar kompetisi tidak hanya menjadi ajang penghargaan bagi wilayah terbaik, tetapi juga mendorong penguatan pengelolaan lingkungan, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta kehidupan bermasyarakat di tingkat RT dan RW.
Pada pilar lingkungan, salah satu indikator utama yang akan dinilai adalah pengurangan sampah melalui pemilahan dari sumbernya. Artinya, pengelolaan sampah diharapkan dimulai dari setiap rumah tangga sebelum masuk ke sistem pengelolaan di tingkat RT maupun RW.
Sementara itu, pilar kemasyarakatan mencakup aspek keamanan dan ketertiban lingkungan. Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain pelaksanaan jadwal keamanan, pemanfaatan kamera pengawas atau CCTV, serta berbagai upaya yang dilakukan warga untuk menciptakan lingkungan yang aman, termasuk mencegah pencurian kendaraan bermotor.
Pada pilar ekonomi, penilaian diarahkan pada kepedulian sosial sekaligus kemandirian ekonomi warga. Keberadaan donasi atau dukungan warga yang mampu kepada masyarakat yang membutuhkan menjadi salah satu indikator. Selain itu, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat kampung juga menjadi perhatian.
Menurut Irvan, pilar ekonomi diharapkan dapat menunjukkan bagaimana warga membangun kekuatan ekonomi bersama sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.
Adapun pilar sosial budaya mencakup bidang kesehatan dan pendidikan. Perhatian terhadap anak putus sekolah menjadi salah satu aspek yang turut diperhitungkan dalam penilaian. Dengan demikian, kualitas sebuah Kampung Pancasila tidak hanya diukur dari kondisi fisik lingkungan, tetapi juga dari kepedulian warga terhadap persoalan sosial.
Seluruh RW di 153 kelurahan Surabaya akan menjadi sasaran peserta lomba. Dengan jumlah total 1.360 RW, kompetisi ini akan berlangsung secara bertahap mulai dari pendaftaran hingga verifikasi lapangan.
Pemkot Surabaya akan membuka pendaftaran secara daring melalui formulir yang disiapkan pemerintah kota. Peluncuran atau launching lomba dijadwalkan pada September 2026, kemudian seluruh tahapan kompetisi berlangsung hingga Desember.
Tahapan lomba meliputi peluncuran, pendaftaran daring, seleksi administrasi, dan verifikasi lapangan. Salah satu komponen penting dalam seleksi administrasi adalah data self assessment yang diisi RT dan RW melalui aplikasi Sayang Warga.
RT dan RW secara rutin melakukan pengisian self assessment setiap bulan. Data tersebut nantinya menghasilkan skor yang menjadi salah satu komponen penilaian dalam kompetisi Kampung Pancasila.
Karena itu, Irvan meminta RT dan RW memastikan pengisian data pada aplikasi Sayang Warga berjalan dengan baik. Kader Surabaya Hebat (KSH) yang terlibat dalam pengisian data juga diharapkan mendapat pendampingan dan pengecekan dari pengurus RT maupun RW.
“Pak RT dan Pak RW harus mengecek pengisian di aplikasi Sayang Warga yang dilakukan oleh ibu-ibu KSH,” ujar Irvan.
Data dari aplikasi tersebut selanjutnya akan menjadi bagian dari proses seleksi sebelum peserta memasuki tahapan verifikasi lapangan. Dalam tahap ini, tim juri akan melakukan penilaian langsung terhadap kondisi dan aktivitas di masing-masing wilayah.
Tim juri melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah Pemkot Surabaya, akademisi, media, hingga praktisi. Kehadiran sejumlah unsur tersebut diharapkan membuat proses penilaian lebih komprehensif dengan melihat berbagai aspek yang menjadi indikator Kampung Pancasila.
Dari total 1.360 RW, verifikasi lapangan tahap pertama akan menyaring peserta menjadi 500 RW terbaik. Selanjutnya, 500 RW tersebut kembali mengikuti verifikasi lapangan tahap kedua untuk menentukan 200 RW terbaik.
Setelah diperoleh 200 RW, peserta akan dikelompokkan berdasarkan jumlah RT yang berada di dalam wilayah RW. Kategori RW A diperuntukkan bagi RW dengan jumlah lebih dari 10 RT, sedangkan RW B untuk wilayah yang memiliki kurang dari 10 RT.
Klasifikasi tersebut menjadi bagian dari proses seleksi menuju 165 RW terbaik yang akan masuk ke tahap berikutnya dalam kompetisi.
Meski empat pilar tetap menjadi dasar penilaian secara keseluruhan, Irvan menegaskan bobot terbesar akan diberikan kepada pilar lingkungan dan ekonomi. Kedua aspek tersebut dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan upaya membangun kampung yang mandiri, sehat, tertata, dan memiliki kepedulian terhadap warganya.
Pengelolaan sampah, terutama pemilahan dari sumber, akan menjadi salah satu perhatian utama pada aspek lingkungan. Sementara pada bidang ekonomi, penilaian mencakup perkembangan UMKM serta kepedulian warga dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
Pilar kemasyarakatan dan sosial budaya tetap menjadi bagian penting yang saling mendukung kedua aspek tersebut. Keamanan lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga kepedulian terhadap anak putus sekolah menjadi indikator yang melengkapi penilaian Kampung Pancasila.
Menjelang peluncuran kompetisi, Pemkot Surabaya meminta seluruh perangkat daerah pengampu mulai melakukan edukasi dan memberikan motivasi kepada RT dan RW. Langkah tersebut diharapkan membuat warga memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan wilayah masing-masing.
Irvan mengatakan persiapan tidak hanya perlu dilakukan menjelang pendaftaran, tetapi juga melalui penguatan kegiatan yang selama ini sudah berjalan di lingkungan RT dan RW. Dengan begitu, Lomba Kampung Pancasila dapat menjadi sarana untuk memperkuat berbagai praktik baik yang telah dilakukan masyarakat.
Lomba Kampung Pancasila Surabaya 2026 pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk mencari wilayah dengan nilai tertinggi. Kompetisi tersebut juga menjadi upaya Pemkot Surabaya mendorong penerapan nilai-nilai Pancasila melalui kehidupan nyata di tingkat paling dekat dengan masyarakat, mulai dari menjaga lingkungan, membangun ekonomi bersama, memperkuat keamanan, hingga memastikan akses kesehatan dan pendidikan bagi warga. (usm)

22 hours ago
9











































