Yogyakarta (pilar.id) – Olahraga malam hari kerap menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang masih mempercayai anggapan bahwa berolahraga pada malam hari dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari paru-paru basah hingga risiko serangan jantung. Namun, sejumlah kajian kesehatan menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Para ahli kesehatan menilai olahraga malam tetap dapat memberikan manfaat bagi tubuh selama dilakukan dengan cara yang tepat. Bahkan, bagi sebagian orang yang memiliki aktivitas padat sejak pagi hingga sore hari, malam menjadi satu-satunya waktu yang tersedia untuk menjaga kebugaran tubuh melalui aktivitas fisik seperti joging, bersepeda, atau latihan kebugaran lainnya.
Secara biologis, tubuh manusia justru berada dalam kondisi fisik yang cukup optimal pada sore hingga malam hari. Pada rentang waktu sekitar pukul 16.00 hingga 20.00, suhu inti tubuh mencapai titik tertinggi. Kondisi ini membuat kekuatan otot, fleksibilitas, koordinasi gerak, dan daya tahan tubuh berada pada performa yang baik sehingga aktivitas olahraga dapat dilakukan secara lebih efektif.
Selain mendukung performa fisik, olahraga malam juga dikenal sebagai salah satu cara efektif untuk mengurangi stres. Setelah menjalani rutinitas pekerjaan maupun aktivitas harian yang melelahkan, berolahraga dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan mental sekaligus meningkatkan suasana hati. Aktivitas seperti joging santai atau jalan cepat sering dipilih sebagai sarana relaksasi setelah seharian beraktivitas.
Keuntungan lainnya adalah suhu udara yang relatif lebih sejuk dibandingkan siang hari. Kondisi ini membuat tubuh tidak cepat merasa gerah dan dapat membantu sebagian orang berolahraga dengan lebih nyaman, terutama di kawasan perkotaan yang cenderung panas pada siang hari.
Meski demikian, olahraga malam tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Salah satu dampak yang paling sering dialami adalah gangguan tidur. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin dan kortisol, sekaligus menaikkan suhu tubuh dan detak jantung. Jika seseorang langsung beristirahat atau tidur sesaat setelah berolahraga, tubuh masih berada dalam kondisi waspada sehingga proses tidur menjadi lebih sulit.
Selain itu, faktor keamanan juga menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang berolahraga pada malam hari. Jarak pandang yang lebih terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan, baik akibat kondisi jalan yang kurang terlihat maupun interaksi dengan kendaraan bermotor. Risiko cedera seperti terkilir juga lebih besar ketika permukaan jalan tidak terlihat jelas.
Di beberapa wilayah, kualitas udara pada malam hari juga perlu menjadi perhatian. Pada kondisi tertentu, terutama menjelang dini hari, fenomena inversi suhu dapat menyebabkan polutan dan asap kendaraan mengendap lebih dekat ke permukaan tanah. Akibatnya, kualitas udara yang dihirup saat berolahraga bisa menjadi kurang baik dibandingkan waktu lainnya.
Agar tetap aman dan mendapatkan manfaat optimal, olahraga malam sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal penting. Salah satunya adalah memberi jeda waktu setidaknya dua jam sebelum tidur. Jeda ini diperlukan agar suhu tubuh dan detak jantung kembali normal sehingga kualitas tidur tetap terjaga.
Pemilihan intensitas olahraga juga perlu disesuaikan. Aktivitas dengan intensitas sedang, seperti joging santai, jalan cepat, atau bersepeda ringan, lebih direkomendasikan dibandingkan latihan berintensitas tinggi menjelang waktu tidur. Selain itu, penggunaan pakaian berwarna terang atau perlengkapan reflektif sangat dianjurkan bagi mereka yang berolahraga di area terbuka guna meningkatkan visibilitas dan keselamatan.
Kebutuhan cairan tubuh juga tidak boleh diabaikan. Meski udara malam terasa lebih sejuk dan tidak menimbulkan rasa haus yang berlebihan, tubuh tetap kehilangan cairan melalui keringat. Karena itu, menjaga hidrasi sebelum, selama, dan setelah berolahraga menjadi langkah penting untuk mencegah dehidrasi.
Secara keseluruhan, olahraga malam bukanlah aktivitas yang berbahaya bagi semua orang. Bahkan, olahraga malam jauh lebih baik dibandingkan tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Kunci utamanya adalah menyesuaikan jenis dan intensitas olahraga dengan kondisi tubuh masing-masing. Jika olahraga malam tidak mengganggu kualitas tidur dan tubuh tetap terasa bugar keesokan harinya, maka kebiasaan tersebut dapat menjadi pilihan yang aman dan menyehatkan. Namun, apabila justru memicu insomnia atau kelelahan berlebih, menggeser jadwal olahraga ke pagi atau sore hari dapat menjadi solusi yang lebih tepat. (ret/hdl)

1 day ago
17






























