Surabaya (pilar.id) – Fenomena komunitas True Crime Community (TCC) yang berkembang di media sosial menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Di tengah meningkatnya konsumsi konten kriminal di ruang digital, sebagian remaja bahkan mulai menunjukkan ketertarikan berlebihan hingga mengagumi pelaku kejahatan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuka jalan bagi radikalisasi digital yang dapat berdampak pada perilaku dan pola pikir generasi muda.
Kekhawatiran itu mendorong sekelompok mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan penelitian mendalam mengenai faktor psikologis yang membuat remaja tertarik bergabung dalam komunitas tersebut. Riset yang mendapatkan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) itu dipimpin oleh Azka Syifa Mazaya bersama Calista Prashanti Jocom, Farrel Thalhah Mahendra, Nabila Juhaina, dan Saila Salsabila.
Melalui penelitian bertajuk “Mengagumi Kejahatan, Menjelma Ancaman: Menguak Radikalisasi Digital Remaja Indonesia dalam True Crime Community”, tim peneliti berupaya mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan remaja dalam komunitas penggemar konten kriminal dengan potensi munculnya paham ekstrem dan perilaku radikal di dunia digital.
Menurut Azka Syifa Mazaya, perkembangan TCC tidak lagi sekadar menjadi ruang diskusi mengenai kasus kriminal yang menarik perhatian publik. Dalam sejumlah kasus, komunitas tersebut berkembang menjadi kelompok yang memberikan perhatian berlebihan kepada pelaku kejahatan hingga menempatkan mereka sebagai figur yang dikagumi.
Fenomena tersebut terlihat dari berbagai bentuk ekspresi yang muncul di media sosial, mulai dari pembuatan video penghormatan, karya seni penggemar, hingga cerita fiksi yang menampilkan pelaku kriminal sebagai tokoh sentral. Praktik semacam itu dinilai berisiko menormalisasi kekerasan, menumbuhkan empati yang keliru terhadap pelaku kejahatan, serta mengikis sensitivitas terhadap korban.
Penelitian yang dilakukan tim UNAIR juga berangkat dari temuan yang menunjukkan adanya keterkaitan antara sebagian komunitas TCC dengan penyebaran ideologi ekstrem di ruang digital. Berdasarkan data yang menjadi dasar penelitian, pada 2026 tercatat puluhan anak di berbagai provinsi di Indonesia terpapar ideologi Neo-Nazi melalui kelompok yang berafiliasi dengan TCC. Selain itu, aparat penegak hukum juga menemukan sejumlah grup dan saluran media sosial yang memiliki keterkaitan dengan jaringan TCC global.
Azka menilai pendekatan penanganan radikalisme selama ini masih banyak berfokus pada aspek represif. Padahal, memahami faktor psikologis yang membuat remaja tertarik pada komunitas semacam itu menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran paham ekstrem sejak dini.
Menurutnya, risiko terbesar dari fenomena tersebut adalah munculnya perilaku imitasi atau peniruan. Ketika pelaku kejahatan diposisikan sebagai figur yang dikagumi, sebagian anggota komunitas berpotensi mencontoh tindakan, pola pikir, maupun ideologi yang dibawa tokoh tersebut.
Saat ini penelitian memasuki tahap pra-lapangan dengan melakukan adaptasi instrumen Exposure to Violent Extremism Scale (EXPO-12) ke dalam Bahasa Indonesia. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan alat ukur yang digunakan relevan dengan karakteristik remaja Indonesia dan mampu menggambarkan tingkat paparan terhadap ideologi ekstrem secara lebih akurat.
Setelah proses adaptasi selesai, tim peneliti akan melanjutkan tahapan rekrutmen partisipan dan wawancara mendalam guna mengumpulkan data penelitian. Hasil riset nantinya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk laporan akademik dan artikel ilmiah, tetapi juga sejumlah produk yang dapat dimanfaatkan secara praktis.
Salah satu target utama penelitian adalah pengembangan instrumen psikologis yang mampu mengukur tingkat radikalisasi digital pada remaja Indonesia. Selain itu, tim juga menyiapkan akun media sosial edukatif serta policy brief yang diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pencegahan radikalisme digital.
Lebih jauh, penelitian ini diarahkan untuk menyusun model deradikalisasi yang berangkat dari pengalaman mantan anggota TCC yang berhasil keluar dari komunitas tersebut. Pengalaman para penyintas diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus motivasi bagi remaja lain agar lebih kritis dalam menyikapi konten digital yang mereka konsumsi setiap hari.
Azka berharap hasil penelitian ini dapat membantu meningkatkan literasi digital generasi muda sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam mengenali konten yang berpotensi mengarah pada radikalisme. Tim peneliti juga berencana mengembangkan alat ukur berbasis temuan riset untuk mendeteksi tingkat radikalisasi digital remaja sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih dini dan tepat sasaran.
Penelitian mahasiswa UNAIR tersebut menjadi salah satu upaya akademis yang relevan di tengah meningkatnya tantangan keamanan digital. Dengan memahami akar psikologis yang mendorong keterlibatan remaja dalam komunitas pengagum pelaku kejahatan, strategi pencegahan dan deradikalisasi diharapkan dapat berjalan lebih efektif serta mampu melindungi generasi muda dari pengaruh paham ekstrem di era digital. (usm/hdl)

1 day ago
13






























