BSI Perkuat Pembiayaan UMKM, Tembus Rp114,17 Triliun hingga Juni 2026

5 hours ago 5

Jakarta (pilar.id) – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) memperkuat komitmennya memperluas akses pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hingga Juni 2026, pembiayaan inklusif BSI tercatat mencapai Rp114,17 triliun, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar 33,65 persen.

Capaian tersebut disampaikan dalam partisipasi BSI pada Gebyar Pembiayaan bertema “Bersatu Mendorong Akses Keuangan UMKM” yang digelar Departemen Ekonomi-Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) Bank Indonesia dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (21/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, BSI turut mengikuti seremoni penandatanganan kesepakatan pembiayaan dengan sejumlah pelaku UMKM. Kegiatan itu disaksikan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia dan menjadi bagian dari upaya memperkuat akses pembiayaan bagi sektor usaha yang berperan penting dalam perekonomian nasional.

Pembiayaan Inklusif BSI di Atas Batas Minimum

Rasio RPIM BSI sebesar 33,65 persen per Juni 2026 berada di atas batas bawah 30 persen yang ditetapkan Bank Indonesia. Capaian ini menunjukkan porsi pembiayaan inklusif BSI telah melampaui ambang minimum yang menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses pembiayaan kepada sektor-sektor yang membutuhkan.

Direktur Human Capital & Compliance BSI Arief Adhi Sanjaya mengatakan dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada penyediaan modal. BSI mengembangkan pendekatan yang menggabungkan pembiayaan, pendampingan usaha, penguatan kapasitas, serta akses pasar agar pelaku UMKM dapat meningkatkan skala bisnisnya.

Arief menyebut sektor UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu, penguatan UMKM dinilai perlu dilakukan melalui ekosistem yang membantu pelaku usaha menjadi lebih siap memperoleh pembiayaan, meningkatkan kapasitas produksi, hingga menjangkau pasar yang lebih luas.

Komitmen tersebut juga tercermin dari portofolio pembiayaan berkelanjutan BSI yang telah mencapai lebih dari Rp75 triliun per Juni 2026. Dari angka tersebut, sekitar Rp59 triliun merupakan pembiayaan sosial, dengan 90 persen di antaranya disalurkan kepada UMKM.

Sementara itu, pembiayaan hijau BSI mencapai Rp16 triliun. Portofolio tersebut didominasi pembiayaan untuk produk eco-efficient dengan porsi 65,2 persen.

Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM oleh BSI ditempatkan dalam kerangka pembiayaan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

Dari Pendampingan UMKM hingga Pasar Ekspor

BSI mengembangkan berbagai program untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM di tingkat lokal. Salah satunya melalui BSI UMKM Center yang saat ini hadir di Aceh, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. BSI juga menyiapkan pengembangan fasilitas serupa di Bandung.

Secara keseluruhan, BSI mencatat 6.037 UMKM binaan dalam ekosistem pendampingannya. Pendekatan tersebut mencakup peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, hingga pembukaan peluang pasar bagi produk UMKM.

Dari sisi digital, BSI menyediakan Portal Go UMKM dan Salam Digital untuk mendukung proses pengajuan pembiayaan mikro dan kecil. Pemanfaatan kanal digital tersebut diarahkan untuk membuat akses layanan pembiayaan menjadi lebih mudah, cepat, dan aman bagi pelaku usaha.

BSI juga menerapkan pendekatan hyperlocal melalui Lapak BSI yang ditempatkan di pasar tradisional maupun modern. Selain itu, BSI mengembangkan 23 Desa Binaan Bangun Sejahtera Indonesia, termasuk Kampung Nelayan BSI Warloka yang berfokus pada pengembangan klaster perikanan.

Program pendampingan tersebut diarahkan agar UMKM tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki kesiapan untuk masuk ke rantai perdagangan internasional.

Salah satu hasil yang dicatat BSI adalah ekspor perdana kopi robusta dalam bentuk green bean dari UMKM asal Lampung ke Oman. Ekspor tersebut merupakan hasil dari business matching yang difasilitasi dalam ajang BSI International Expo.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendampingan UMKM dapat diarahkan hingga tahap perluasan pasar, termasuk membuka akses terhadap pembeli dan mitra bisnis dari luar negeri.

Melalui keterlibatan dalam KKI 2026, BSI menilai kolaborasi dengan Bank Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting untuk memperkuat ekosistem UMKM. Arief Adhi Sanjaya menegaskan BSI ingin mengambil peran sebagai akselerator agar pelaku usaha lokal dapat meningkatkan daya saing, berkembang secara berkelanjutan, dan membawa produk Indonesia ke pasar global.

Dengan pembiayaan inklusif yang telah mencapai Rp114,17 triliun, ditambah pengembangan pembiayaan sosial dan hijau serta program pendampingan di berbagai daerah, BSI menempatkan UMKM sebagai salah satu fokus dalam strategi memperluas akses ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan usaha yang lebih berkelanjutan. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |