Bank Indonesia Dorong UMKM Ubah Limbah Jadi Peluang Ekonomi Sirkular dan Bernilai Tambah

7 hours ago 15

Jakarta (pilar.id) – Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengambil peran lebih besar dalam transformasi ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi atas persoalan pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang usaha baru yang lebih berkelanjutan.

Dorongan itu mengemuka dalam Sustainable Talk bertema “Waste Management: Pengolahan Limbah Ramah Lingkungan dan Bernilai Tambah” yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah pada 2025 mencapai 24,8 juta ton per tahun yang berasal dari 244 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sekitar 65 persen belum terkelola secara layak.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan sampah sekaligus potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. UMKM dapat mengambil peran mulai dari menghasilkan produk ramah lingkungan, mengolah limbah menjadi bahan atau produk baru, hingga masuk ke dalam rantai pasok industri yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Sustainable Talk tersebut dibuka Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali bersama Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto. Forum itu mempertemukan pelaku UMKM, pemerintah, komunitas, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi, kementerian/lembaga, serta pemerhati lingkungan untuk membahas pengelolaan limbah yang memiliki manfaat ekonomi.

Ricky mengatakan paradigma pengelolaan limbah perlu bergeser dari pola linear “ambil, olah, buang” menuju sistem ekonomi sirkular. Dalam pendekatan tersebut, nilai produk dan material dipertahankan selama mungkin melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan daur ulang.

Menurut Ricky, perubahan paradigma itu dapat menciptakan rantai nilai baru bagi industri, UMKM, dan masyarakat. Limbah yang sebelumnya dipandang sebagai beban dapat diolah menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi.

Bagi UMKM, penerapan prinsip keberlanjutan juga memiliki manfaat langsung terhadap pengembangan bisnis. Selain membantu mengurangi dampak lingkungan, model usaha sirkular berpotensi meningkatkan efisiensi, menciptakan produk dan pasar baru, serta memperkuat posisi UMKM dalam rantai pasok industri.

Untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha, Bank Indonesia telah menyusun Pedoman Model Bisnis UMKM Berkelanjutan. BI juga memfasilitasi replikasi praktik pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah sebagai bagian dari upaya memperluas penerapan model bisnis yang ramah lingkungan.

Penguatan UMKM berkelanjutan juga dilakukan melalui Kompetisi Perintis Wirausaha Inklusif dan Berkelanjutan (PERWIRA INTAN). Program tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat umum untuk mengembangkan inovasi model bisnis, khususnya di sektor pertanian berkelanjutan.

Pada 2026, PERWIRA INTAN menjaring 1.950 peserta dengan inovasi yang diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari seluruh pendaftar, sebanyak 200 proposal terbaik akan mendapatkan pembekalan dan pendampingan.

Selanjutnya, lima inovasi terbaik berkesempatan memperoleh fasilitasi business matching, kerja sama dengan Bank Indonesia, serta studi banding ke negara yang memiliki sektor pertanian maju.

Penerapan prinsip ekonomi sirkular juga dilakukan Bank Indonesia dalam pengelolaan Uang Rupiah. BI bekerja sama dengan UMKM memanfaatkan limbah racik uang kertas, yakni material yang berasal dari pemusnahan uang kertas yang sudah tidak layak edar.

Material tersebut diolah menjadi suvenir bernilai ekonomi serta bahan baku untuk pembuatan material pembenah tanah berupa biochar. Inisiatif tersebut bahkan memperoleh pengakuan internasional melalui IACA Award dan meraih penghargaan kategori Best New Environmental Sustainability Project.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, yang mewakili Gubernur DKI Jakarta, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mengurangi persoalan sampah dari hulu.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan pemilahan sampah menjadi empat kategori, yaitu organik, anorganik, bahan beracun dan berbahaya (B3), serta residu.

Pemilahan sejak sumber diharapkan dapat mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir sekaligus meningkatkan peluang pemanfaatan material yang masih memiliki nilai ekonomi.

Sustainable Talk menghadirkan Kurniawan Agung dari Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Dudi Gardesi Asikin dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change.

Para narasumber membahas praktik ekonomi sirkular yang dapat diterapkan UMKM, mulai dari pemilahan dan pengelolaan sampah hingga pengolahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Diskusi tersebut diikuti pelaku UMKM, asosiasi, kementerian/lembaga, komunitas lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat umum.

Penguatan ekonomi sirkular dinilai membutuhkan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, pendampingan, pasar, dan jejaring bisnis. Kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar praktik keberlanjutan tidak berhenti sebagai inisiatif individual, tetapi berkembang menjadi bagian dari model bisnis.

Bank Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem usaha yang semakin inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan semangat KKI 2026, “Beudaya MeusareSare, Berdaya Bersama-sama”, pengelolaan limbah diharapkan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan lingkungan.

Melalui ekonomi sirkular, limbah dapat diolah menjadi sumber daya, membuka peluang usaha baru, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperkuat daya saing UMKM Indonesia. Pada saat yang sama, pendekatan tersebut dapat mendorong perubahan menuju perekonomian yang lebih efisien dalam menggunakan sumber daya dan lebih berkelanjutan. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |