Malang (pilar.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi kepada 13 sanggar pelestari Topeng Malangan sekaligus mendorong penguatan regenerasi seniman agar kesenian tradisional tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi muda.
Apresiasi itu disampaikan Khofifah dalam acara Apresiasi Pelestari Kesenian Asli Jawa Timur di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8/2026). Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menjaga keberlanjutan kesenian tradisional sekaligus memperkuat ekosistem pelaku budaya.
Dari 13 sanggar yang mendapat dukungan, Sanggar Tari Setyotomo menerima satu set gamelan. Sementara 12 sanggar lainnya masing-masing memperoleh uang pembinaan sebesar Rp5 juta.
Khofifah menilai dukungan tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan kepada sanggar, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang selama ini dirawat para sesepuh, maestro, seniman, budayawan, komunitas, dan pelaku seni di Jawa Timur.
Menurut Khofifah, Topeng Malangan memiliki posisi penting dalam identitas budaya masyarakat Malang dan Jawa Timur. Kesenian tersebut tidak hanya berupa pertunjukan tari, musik, topeng, dan lakon, tetapi juga menyimpan pengetahuan, simbol, karakter, filosofi, serta nilai kehidupan yang berkaitan dengan tradisi Cerita Panji.
Karena itu, pelestarian Topeng Malangan dinilai tidak cukup hanya dengan memastikan pertunjukan tetap berlangsung. Transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, dan nilai budaya kepada generasi muda juga harus menjadi perhatian utama.
Khofifah menempatkan regenerasi sebagai salah satu kunci keberlanjutan kesenian tradisional. Menurut dia, keberadaan panggung pertunjukan harus berjalan beriringan dengan munculnya generasi baru yang memiliki kemampuan untuk meneruskan sekaligus mengembangkan kesenian tersebut.
Penguatan regenerasi juga menjadi alasan penting di balik pemberian seperangkat gamelan kepada Sanggar Tari Setyotomo. Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak dan generasi muda yang ingin mengenal serta mendalami Topeng Malangan.
Upaya pelestarian juga telah dilakukan melalui Program Seni Waris yang memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk dipelajari, dipertunjukkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Khofifah menekankan bahwa keberlanjutan kebudayaan membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Seniman dan pelaku budaya perlu memiliki ruang untuk berkarya, meningkatkan kapasitas, serta memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas kebudayaan.
Karena itu, pengembangan seni dan budaya dinilai perlu dikaitkan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Keterhubungan tersebut diharapkan menciptakan nilai tambah sekaligus membuat profesi di bidang kebudayaan semakin memiliki daya dukung ekonomi.
Dalam konteks tersebut, Pemprov Jatim mendorong keseimbangan antara pelestarian budaya, regenerasi, peningkatan kapasitas pelaku seni, serta pembukaan akses ekonomi. Konsep yang dibangun adalah kebudayaan tetap lestari, seniman memiliki daya hidup yang lebih kuat, generasi muda merasa bangga, dan ekonomi kreatif dapat tumbuh bersama.
Penguatan ekosistem tidak hanya menyasar sanggar seni. Dalam kegiatan tersebut, Khofifah juga memberikan bantuan modal sebesar Rp5 juta kepada Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Krida Budaya Malang.
Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar ruang kebudayaan. Keberadaan PKL dan pelaku UMKM dinilai dapat menjadi bagian dari ekosistem yang berkembang bersama aktivitas seni dan budaya.
Ketika ruang kebudayaan semakin aktif dengan kegiatan pertunjukan, pembelajaran, dan komunitas, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya juga berpeluang mendapatkan manfaat. Dengan demikian, ruang budaya dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang sosial dan ekonomi masyarakat.
Khofifah juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan Topeng Malangan. Pemerintah, seniman, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai perlu membangun kolaborasi agar kesenian tradisional tidak sekadar bertahan, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur menunjukkan adanya pertumbuhan ekosistem Topeng Malangan dalam dua tahun terakhir. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari menyebut jumlah sanggar tari khusus Topeng Malangan meningkat dari 11 sanggar pada 2025 menjadi 15 sanggar pada 2026.
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah seniman aktif. Pada 2025 tercatat 369 seniman aktif, sedangkan hingga Agustus 2026 jumlahnya telah mencapai 589 orang.
Evy menilai peningkatan jumlah sanggar dan seniman tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi. Pertumbuhan itu sekaligus menunjukkan adanya ruang bagi Topeng Malangan untuk terus berkembang dan semakin dekat dengan generasi muda.
Ke depan, penguatan ekosistem Topeng Malangan akan diarahkan pada perluasan ruang pertunjukan, pembinaan, pendidikan, serta kolaborasi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas keterlibatan generasi muda dalam mengenal, mempelajari, mencintai, dan melestarikan kesenian khas Malang tersebut.
Bagi Jawa Timur, keberlanjutan Topeng Malangan bukan hanya menyangkut keberadaan sebuah kesenian tradisional. Di dalamnya terdapat upaya menjaga pengetahuan dan identitas budaya sekaligus memastikan para pelaku seni memiliki ruang untuk berkembang dan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk menjadi penerus.
Dengan dukungan terhadap sanggar, penguatan regenerasi, serta pengembangan keterkaitan antara budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif, pelestarian Topeng Malangan diharapkan tidak berhenti pada upaya mempertahankan warisan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan generasi muda Jawa Timur di masa depan. (usm/hdl)

15 hours ago
8










































