Indonesia dan India Perkuat Kolaborasi Industri dari Kendaraan Listrik hingga Transformasi Digital

8 hours ago 7

Jakarta (pilar.id) – Indonesia dan India membuka peluang untuk memperluas kolaborasi industri di sejumlah sektor strategis, mulai dari kendaraan listrik, industri hijau, semikonduktor, hingga transformasi industri digital berbasis otomatisasi dan kecerdasan buatan. Peluang tersebut menjadi fokus pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia Faisol Riza dan Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan India Jitin Prasada di sela penyelenggaraan 10th BRICS Industry Ministers’ Meeting di Jaipur, India.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan industri dua negara yang sama-sama memiliki pasar domestik besar serta basis manufaktur yang kuat. Indonesia dan India dinilai memiliki struktur industri yang saling melengkapi sehingga berpotensi memperluas pengembangan investasi, teknologi, dan rantai pasok di kawasan Indo-Pasifik.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai momentum saat ini tepat untuk membawa kerja sama industri Indonesia dan India ke tahap yang lebih konkret dan implementatif. Selain mempererat hubungan bilateral, kerja sama tersebut diharapkan dapat menghasilkan manfaat bersama melalui pengembangan sektor industri strategis dan pembukaan akses pasar yang lebih luas.

Pertemuan bilateral itu juga melanjutkan perkembangan hubungan kedua negara setelah kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke India pada peringatan Republic Day 2025 serta kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026. Rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut memperluas agenda kerja sama di berbagai bidang, termasuk perdagangan, investasi, kesehatan, farmasi, hilirisasi industri, dan pengembangan sumber daya manusia.

Hubungan perdagangan Indonesia dan India juga menunjukkan nilai yang signifikan. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD23,16 miliar. Dari jumlah tersebut, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD18,32 miliar, sedangkan impor dari India mencapai USD4,84 miliar.

Meski demikian, Indonesia mencatat adanya penurunan ekspor produk industri pengolahan nonmigas ke India dalam beberapa tahun terakhir. Persoalan tersebut menjadi salah satu agenda pembahasan untuk mendorong perluasan akses pasar bagi produk manufaktur Indonesia.

Pertemuan di Jaipur juga berlangsung dalam konteks posisi Indonesia sebagai anggota penuh BRICS. Keanggotaan tersebut membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara anggota, termasuk India, khususnya dalam pengembangan industri, investasi, teknologi, dan penguatan jaringan rantai pasok global.

Dalam pertemuan bilateral, Pemerintah India menyambut usulan kerja sama konkret yang disampaikan Indonesia di sejumlah sektor strategis. Bidang yang menjadi perhatian antara lain pengembangan industri hijau, semikonduktor, dan industri agro.

Pihak India juga menyampaikan perhatian terhadap kebijakan pembatasan kuota impor terhadap sejumlah produknya ke Indonesia. Isu tersebut akan diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait di Indonesia sesuai kewenangannya.

Salah satu sektor yang didorong untuk dikembangkan melalui kolaborasi adalah industri semikonduktor. Sektor ini memiliki posisi penting sebagai penopang berbagai industri prioritas, mulai dari elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga pengembangan teknologi digital.

Indonesia juga melihat peluang kerja sama dalam transformasi industri melalui penerapan otomatisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence, dan smart manufacturing. Selain itu, pengembangan infrastruktur digital seperti data center menjadi salah satu bidang yang berpotensi meningkatkan produktivitas dan daya saing industri kedua negara.

Kolaborasi di sektor kendaraan listrik dan industri hijau juga membuka peluang bagi Indonesia dan India untuk memperkuat pengembangan manufaktur berkelanjutan. Dengan basis industri yang besar, kedua negara memiliki potensi membangun kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga investasi, transfer teknologi, pengembangan kapasitas industri, serta integrasi rantai pasok.

Bagi Indonesia, penguatan hubungan industri dengan India dapat menjadi peluang untuk memperluas akses produk nasional ke pasar internasional sekaligus meningkatkan keterlibatan industri dalam rantai pasok global. Sementara bagi kedua negara, kerja sama tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dan India sebagai mitra strategis dalam menghadapi perubahan industri yang semakin dipengaruhi teknologi digital, transisi energi, dan kebutuhan akan manufaktur berkelanjutan.

Pertemuan Faisol Riza dan Jitin Prasada di Jaipur menjadi langkah lanjutan untuk menerjemahkan hubungan bilateral Indonesia-India ke dalam kerja sama industri yang lebih nyata. Ke depan, pengembangan investasi, teknologi, semikonduktor, kendaraan listrik, AI, smart manufacturing, dan industri hijau berpotensi menjadi bagian penting dalam agenda kolaborasi kedua negara. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |