Jakarta (pilar.id) – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan istiqamah sebagai ukuran dalam meneladani Rasulullah SAW. Menurut dia, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW perlu dibuktikan melalui sikap, akhlak, dan perilaku baik yang dijaga secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Jami Attaqwa, Babelan, Bekasi, Selasa (25/8/2026).
Nasaruddin mengatakan, seseorang dapat melakukan evaluasi terhadap kualitas keteladanannya kepada Rasulullah dengan melihat sejauh mana dirinya mampu menjaga istiqamah. Dengan demikian, keteladanan tidak hanya diukur dari kecintaan atau pengetahuan tentang Nabi, tetapi juga dari konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai kebaikan.
“Gampang kalau mau mengukur dirinya apakah seperti pengikut Rasulullah atau bukan, ukurannya adalah istiqamah,” kata Nasaruddin.
Ia menjelaskan bahwa istiqamah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar konsisten melakukan suatu aktivitas. Menurut Nasaruddin, konsep tersebut dapat dipahami melalui sejumlah nilai yang membentuk karakter seorang Muslim, antara lain ikhlas, sabar, tawadu, ihsan, qanaah, amanah, muru’ah, akhlak, dan al-haya atau rasa malu.
Nilai-nilai tersebut, lanjut dia, memiliki keterkaitan dalam membangun pribadi yang mampu mempertahankan kebaikan secara berkelanjutan. Ikhlas menjadi landasan dalam berbuat, sedangkan sabar diperlukan agar seseorang mampu menghadapi berbagai keadaan tanpa mudah meninggalkan prinsip kebaikan.
Sementara itu, tawadu mengajarkan seseorang untuk tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat sekaligus mencegah munculnya kesombongan.
Nasaruddin juga menjelaskan bahwa ihsan mendorong seorang Muslim untuk memberikan yang terbaik dalam setiap perbuatan. Adapun qanaah berkaitan dengan kemampuan menerima dan mensyukuri apa yang dimiliki, sementara amanah menuntut seseorang untuk mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Nilai berikutnya adalah muru’ah, akhlak, dan al-haya. Ketiganya berkaitan dengan upaya menjaga kehormatan diri serta mengendalikan perilaku agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebaikan.
Bagi Nasaruddin, keseluruhan nilai tersebut pada akhirnya bermuara pada akhlak. Keteladanan Rasulullah SAW tidak semestinya hanya hadir dalam peringatan keagamaan atau momentum tertentu, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang terus dijaga.
Karena itu, ia kembali mengajak umat Islam melakukan introspeksi dengan menjadikan istiqamah sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai diri sebagai pengikut Rasulullah SAW.
“Apakah kita akan menjadi umatnya Rasulullah, lihat kriterianya apakah saya istiqamah atau tidak,” ujar Nasaruddin.
Ia menegaskan bahwa menjaga istiqamah bukan perkara sederhana. Konsistensi dalam menjalankan nilai kebaikan membutuhkan proses, pengendalian diri, serta evaluasi secara terus-menerus.
Dalam konteks tersebut, setiap Muslim perlu melihat kembali kesesuaian antara nilai yang diyakini dengan perilaku yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan pesan keagamaan, menurut Nasaruddin, akan memiliki makna lebih kuat apabila diwujudkan dalam tindakan nyata.
Nasaruddin menyebut karakter tersebut sebagai bagian dari akhlak Rasulullah SAW yang tercermin melalui konsistensi dalam kebaikan. Istiqamah dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan keteguhan menjalankan ibadah, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang mempertahankan akhlak dalam berbagai situasi.
“Inilah akhlaknya Rasulullah yaitu akhlakul istiqamah,” tutur dia.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Jami Attaqwa menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali merefleksikan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Pesan tentang istiqamah menempatkan peringatan tersebut bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai kesempatan untuk menerjemahkan nilai-nilai kenabian ke dalam kehidupan nyata.
Dengan menjaga keikhlasan, kesabaran, kerendahan hati, sikap ihsan, qanaah, amanah, kehormatan diri, akhlak, serta rasa malu secara konsisten, umat Islam diharapkan dapat menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai bagian dari karakter dan kebiasaan sehari-hari. (usm/hdl)

10 hours ago
11









































