Malang (pilar.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menerima delegasi India dalam diskusi Indonesia-India Tech di Hello Motion High School, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi langkah untuk memperkuat sinergi antara Jawa Timur dan India dalam pengembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), teknologi digital, animasi, hingga ekonomi kreatif.
Dalam diskusi tersebut, Emil mendorong agar perkembangan AI tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman bagi kreator dan pekerja industri kreatif. Menurutnya, teknologi perlu ditempatkan sebagai perangkat yang dapat membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat proses kerja, dan membuka peluang kolaborasi baru tanpa menghilangkan peran kreativitas manusia.
Ia menilai pengalaman India dalam pengembangan teknologi digital dapat menjadi referensi bagi Jawa Timur. India, menurut Emil, telah menunjukkan perkembangan pemanfaatan AI yang dapat berjalan berdampingan dengan kemampuan kreatif manusia.
Emil menekankan bahwa karya kreatif tetap membutuhkan sentuhan manusia. Unsur artistik, emosi, dan perspektif kreator dinilai tidak serta-merta dapat digantikan oleh teknologi. Karena itu, AI perlu diposisikan sebagai alat bantu atau perangkat pendukung, bukan sebagai pengganti manusia dalam proses penciptaan karya.
Menurut Emil, kehadiran delegasi India membuka peluang untuk membangun kerja sama yang lebih konkret antara pelaku industri kreatif di KEK Singhasari dengan mitra dari India. Kolaborasi tersebut dapat mencakup pengembangan animasi, teknologi digital, pendidikan kreatif, hingga bidang lain yang berkaitan dengan pertumbuhan industri berbasis teknologi.
KEK Singhasari dinilai memiliki modal untuk memperluas kerja sama tersebut karena telah membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan, industri, komunitas, dan teknologi. Salah satu bagian dari ekosistem itu adalah Hello Motion High School yang menerapkan pendekatan pembelajaran kreatif dengan memberikan ruang lebih luas kepada siswa untuk belajar dan menghasilkan karya.
Emil menggambarkan proses belajar di sekolah tersebut tidak selalu berlangsung secara konvensional di dalam ruang kelas. Para siswa dapat memanfaatkan berbagai ruang di lingkungan sekolah untuk mengerjakan proyek dengan perangkat digital, termasuk tablet dan teknologi pendukung lainnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan karakter industri kreatif yang membutuhkan fleksibilitas dan ruang eksplorasi. Ekosistem KEK Singhasari juga terus berkembang dengan keberadaan studio animasi, kelas industri bagi siswa SMK, ruang coding, serta klaster film dan animasi.
Emil menyebut kawasan tersebut telah menjadi tempat beraktivitas bagi ratusan animator. Namun, ia menilai kekuatan utama KEK Singhasari tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada komunitas yang tumbuh dan membangun kolaborasi dari tingkat akar rumput.
Pengembangan ekosistem di KEK Singhasari juga mulai menarik perhatian lembaga pendidikan dan mitra internasional. Emil menyebut keberadaan program magister bidang digital dari King’s College London menjadi salah satu perkembangan dalam ekosistem pendidikan di kawasan tersebut. Sejumlah perguruan tinggi di India juga mulai melihat peluang kerja sama dengan KEK Singhasari.
Peluang kolaborasi, menurut Emil, tidak terbatas pada animasi dan ekonomi kreatif. Bidang lain seperti keamanan siber atau cyber security juga memiliki potensi untuk dikembangkan melalui kerja sama internasional. Kondisi tersebut dapat memperkuat posisi KEK Singhasari sebagai kawasan yang menghubungkan pendidikan, teknologi, industri, kreativitas, dan jaringan global.
Ia juga menilai hubungan antara India dan Jawa Timur terus berkembang. Komunikasi dan pertemuan antara pemerintah daerah dengan perwakilan India menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama di berbagai sektor.
Lebih jauh, Emil menekankan pentingnya pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi Jawa Timur. Berbeda dengan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan dan perlu dikelola secara berkelanjutan, ekonomi kreatif bertumpu pada kemampuan manusia untuk menciptakan gagasan, inovasi, dan nilai tambah.
Karena itu, ia berharap KEK Singhasari dapat terus memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, industri, komunitas kreatif, dan mitra internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya talenta muda yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan inovasi bernilai ekonomi dengan daya saing global.
Melalui penguatan ekosistem teknologi dan ekonomi kreatif, Jawa Timur diharapkan dapat memperluas basis pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemanfaatan AI, pengembangan talenta digital, industri animasi, pendidikan berbasis teknologi, dan kerja sama internasional menjadi bagian dari peluang yang dapat dikembangkan dari KEK Singhasari untuk menjangkau pasar yang lebih luas. (hdl)

1 day ago
7










































