Summary Point
- Chelsea meraih kemenangan penting 3-2 atas Napoli di Stadio Diego Armando Maradona.
- Cole Palmer menjadi katalis kebangkitan lewat dua assist meski baru pulih cedera.
- Musim Palmer terganggu cedera dan minim menit bermain di Liga Champions.
- Muncul dilema taktik Chelsea terkait peran Palmer dan Enzo Fernandez.
- Isu homesick dan ketertarikan Manchester United menambah spekulasi masa depan Palmer.
London (pilar.id) – Chelsea berhasil mencatatkan kemenangan krusial atas Napoli dengan skor 3-2 dalam lanjutan Liga Champions, Rabu (waktu setempat), di Stadio Diego Armando Maradona. Hasil ini menjaga peluang The Blues menembus delapan besar fase grup setelah sempat tertinggal dan berada di luar zona aman selama 45 menit pertama.
Titik balik pertandingan terjadi ketika pelatih Chelsea, Liam Rosenior, memasukkan Cole Palmer di babak kedua. Gelandang serang berusia 23 tahun itu langsung memberi dampak signifikan dengan merancang dua gol yang dicetak Joao Pedro, membalikkan keadaan dan membungkam publik Naples.
Kemenangan ini terasa istimewa mengingat Palmer baru menjalani penampilan keduanya di Liga Champions musim ini. Sebelumnya, ia absen cukup lama akibat masalah cedera pangkal paha dan paha, yang membuat kontribusinya di kompetisi Eropa sangat terbatas. Secara total, Palmer baru bermain 135 menit dari potensi 720 menit Chelsea di Liga Champions musim ini.
Meski sempat muncul anggapan bahwa performanya menurun dan kurang antusias, Palmer justru membuktikan kualitasnya di laga besar. Sepanjang musim berjalan, namanya tetap tercatat sebagai pembeda dalam pertandingan-pertandingan penting, termasuk saat menghadapi klub elite seperti Manchester City, Manchester United, Arsenal, hingga Bayern Munich dan Paris Saint-Germain.
Puncak performa Palmer bersama Chelsea sejauh ini terjadi pada final Piala Dunia Antarklub 2025 kontra PSG. Dalam laga tersebut, ia tampil dominan dengan dua gol dan satu assist, mengantar Chelsea menang telak 3-0 dan mengukuhkan statusnya sebagai salah satu talenta terbaik dunia.
Namun, seiring berkembangnya skuad Chelsea, muncul persoalan taktik yang tidak sederhana. Rosenior kini dihadapkan pada pilihan sulit dalam memaksimalkan peran Palmer dan Enzo Fernandez secara bersamaan. Ketika Fernandez dimainkan lebih menyerang, Palmer kerap bergeser ke sisi kanan lapangan, menjauh dari area favoritnya di half-space kanan.
Masalahnya, Chelsea saat ini jarang mengandalkan full-back overlap, sehingga Palmer sering terisolasi dan mudah dikawal dua pemain lawan. Situasi ini diperumit oleh kehadiran talenta muda Brasil, Estevao Willian, yang digadang-gadang akan mendapat peran kreatif sentral di masa depan.
Kepergian Nicolas Jackson dan Noni Madueke juga berdampak langsung terhadap efektivitas Palmer. Absennya penyerang dengan pergerakan vertikal membuat visi dan umpan terobosan Palmer kerap tidak menemukan sasaran ideal.
Di sisi lain, kondisi fisik Palmer menjadi perhatian tersendiri. Cedera berulang memunculkan kekhawatiran terkait potensi pubalgia, cedera kronis yang bisa menggerus kelincahan dan daya ledak pemain dalam jangka panjang.
Dengan kontrak yang masih berlaku hingga 2033, Chelsea berada di posisi kuat secara finansial. Meski Rosenior menyatakan Palmer tetap menjadi bagian penting proyek klub, dinamika kepemilikan di bawah Clearlake Capital serta rumor ketertarikan Manchester United membuat masa depan sang playmaker tetap menjadi topik hangat.
Chelsea boleh merayakan kemenangan di Naples, tetapi di balik itu, satu pertanyaan besar terus menggantung: apakah The Blues masih akan menjadi “tim Cole Palmer”, atau justru bergerak ke arah identitas baru? (mad/hdl)

8 hours ago
8

















































