Toco.id: Guncang E-commerce Asia Tenggara, Janjikan Komisi Nol Persen!

1 day ago 10

Summary Point

  • Toco.id, marketplace Indonesia dengan komisi 0 persen seumur hidup, menjadi sorotan media Tiongkok sebagai alternatif disruptif.
  • Lonjakan popularitasnya dipicu eksodus penjual pasca gejolak merger TikTok Shop-Tokopedia dan kenaikan biaya di platform besar.
  • Media Tiongkok menjulukinya “safe harbor” dan membandingkan pertumbuhannya dengan Meesho di India.
  • CEO Toco Arnold Sebastian menyatakan pertumbuhan organik berkat penjual yang lelah dengan potongan platform lain yang bisa mencapai 8-38 persen.
  • Toco telah meraih penghargaan dan dianggap membuka babak baru persaingan e-commerce yang lebih ramah penjual, meski tantangan keberlanjutan model bisnisnya masih jadi sorotan.

Jakarta (pilar.id) – Lanskap e-commerce Asia Tenggara bergerak pada pemain baru yang menawarkan janji radikal: komisi nol persen seumur hidup. Platform lokal Indonesia, Toco (toco.id), tak hanya menarik perhatian penjual domestik, tetapi juga menjadi sorotan berbagai media dan analis bisnis asal Tiongkok.

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya keluhan penjual terhadap biaya komisi dan ketidakpastian regulasi di platform raksasa seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop. Media Tiongkok menjuluki Toco sebagai “safe harbor” atau pelabuhan aman baru bagi para penjual, termasuk dari luar negeri, yang mencari efisiensi biaya.

Eksodus Besar-besaran Pasca Merger yang Kacau

Laporan dari media Tiongkok, Baijing.cn (18 Juli 2025), mengaitkan lonjakan minat pada Toco dengan gejolak pasca penggabungan TikTok Shop dan Tokopedia. Ribuan penjual yang terdampak ketidakpastian disebut berbondong-bondong mencari alternatif, dan Toco dengan kebijakan nol komisinya menjadi pilihan utama.

Analisis serupa dari DNY1.com (17 Juli 2025) menyebut puluhan ribu penjual terdampak merger dan Toco menjadi penerima manfaat terbesar. Kebijakan agresif Toco dinilai sangat kontras dengan platform arus utama yang mulai menerapkan komisi transaksi, seperti Shopee dan TikTok Shop yang mengenakan 2,5 persen.

Model Bisnis yang Disruptif dan Pertumbuhan Eksponensial

Dalam artikel mendalam bertajuk “Platform E-commerce Toco: Model tanpa komisi memicu perubahan di pasar Asia Tenggara”, Ingstart.com (9 Desember 2025) menganalisis Toco sebagai kekuatan disruptif. Platform ini dinilai berhasil membuka ceruk bagi penjual yang terbebani biaya tinggi dan konsumen pencari nilai terbaik.

Chwang.com (9 Desember 2025) mengulas pertumbuhan pesat Toco sejak diluncurkan Agustus 2024. Dengan menantang komisi 8-38 persen dari platform besar, Toco berhasil menarik jutaan pengguna aktif bulanan dan 3,4 juta produk terdaftar. Pola pertumbuhannya sering dibandingkan dengan Meesho di India, yang sukses dengan model serupa.

Tantangan dan Strategi Ke Depan

Meski menjanjikan, media Tiongkok juga menyoroti tantangan berat Toco, terutama terkait keberlanjutan model bisnis tanpa pemasukan dari komisi, serta keterbatasan infrastruktur dan trafik. Bagi penjual Tiongkok, Toco lebih direkomendasikan sebagai platform validasi produk berbiaya rendah, bukan saluran utama.

CEO dan Pendiri Toco, Arnold Sebastian, dalam laporan Sea321.com (19 Desember 2025), menyatakan pertumbuhan platformnya terjadi secara organik. Menurutnya, banyak penjual frustrasi dengan potongan besar di platform lain yang menyulitkan perkembangan merek.

Penghargaan dan Visi Jangka Panjang

Toco telah mendapatkan pengakuan dengan meraih penghargaan Inspiring Ecommerce Enabler Of The Year 2025 dari Marketeers. Platform yang mengusung gerakan 0 persen potongan ini bertujuan menjadikan e-commerce sebagai infrastruktur efisien untuk mempercepat transaksi dan memaksimalkan keuntungan penjual, khususnya UMKM dan brand lokal.

Kebangkitan Toco, dalam sudut pandang analis Tiongkok, menandai babak baru persaingan e-commerce Asia Tenggara yang lebih berfokus pada efisiensi biaya dan kepentingan penjual. Kehadirannya membuktikan bahwa ekosistem digital bisa berkembang dengan berbagai model, menawarkan harapan baru di tengah dominasi raksasa yang kian mahal. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |