Seminar Benih Lokal di Mojokerto Perkuat Regulasi Pemerintah bagi Petani dan Penangkar

1 day ago 11

Summary Point

  • Seminar benih lokal digelar di Mojokerto untuk memperkuat kemandirian petani
  • Pemerintah menegaskan dukungan regulasi perbenihan bagi benih lokal
  • Petani didorong memproduksi benih berstandar mutu dan ramah lingkungan
  • Kegiatan melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan praktisi internasional

Mojokerto (pilar.id) – Upaya pelestarian plasma nutfah sekaligus penguatan kemandirian benih lokal terus diperkuat melalui Seminar Benih Lokal untuk Konservasi Plasma Nutfah dan Kemandirian Benih. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Seloliman (YPLHS) dengan dukungan PanEco Foundation di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (29/1/2026).

Seminar tersebut menjadi forum strategis untuk menegaskan dukungan pemerintah dari sisi regulasi bagi petani dan penangkar benih lokal. Melalui penguatan kebijakan dan kepastian hukum, petani diharapkan memiliki acuan yang jelas dalam memproduksi, mengembangkan, serta mendistribusikan benih lokal yang berkualitas dan berkelanjutan.

Direktur YPLHS, Suroso, menekankan bahwa benih lokal merupakan fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional, keanekaragaman hayati, serta kemampuan sektor pertanian dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Menurutnya, penguatan regulasi dari Kementerian Pertanian menjadi faktor kunci agar petani tidak hanya memahami aspek teknis perbenihan, tetapi juga memiliki kejelasan hukum dalam pengembangannya.

Dalam seminar ini, peserta mendapatkan pemaparan langsung dari sejumlah narasumber Kementerian Pertanian, antara lain Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), serta UPT Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur. Materi yang disampaikan mencakup kebijakan perbenihan tanaman pangan tahun 2026, strategi pelestarian plasma nutfah, serta mekanisme pengawasan dan sertifikasi benih lokal sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain sesi diskusi dan pemaparan kebijakan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan di wilayah Trawas, Mojokerto. Kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai praktik pengelolaan dan pengembangan benih lokal berbasis komunitas, sekaligus menjadi contoh penerapan prinsip keberlanjutan di tingkat tapak.

Seminar juga menghadirkan perspektif internasional melalui sesi berbagi pengalaman dari Neelam Dutta, praktisi benih lokal asal Assam, India. Pengalaman pengembangan usaha benih lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di negaranya menjadi referensi penting bagi peserta dalam mengembangkan model serupa di Indonesia.

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari dinas pertanian provinsi dan kabupaten/kota, penyuluh pertanian, petani dan penangkar benih lokal, pemerintah desa, akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas benih.

Melalui seminar yang didukung PanEco Foundation ini, YPLHS berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, petani, dan komunitas. Sinergi tersebut dinilai penting untuk mewujudkan sistem perbenihan nasional yang berkelanjutan, berkeadilan, serta mampu mendorong pengembangan benih lokal berstandar organik sebagai bagian dari penguatan kedaulatan pangan Indonesia. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |