Summary Point
- Kai Havertz mencatat starter pertama setelah absen panjang akibat cedera
- Berkontribusi satu gol dan satu assist saat Arsenal menang 3-2 atas Kairat
- Kombinasinya dengan Viktor Gyokeres dinilai menjanjikan
- Fleksibilitas posisi Havertz memberi opsi taktik baru bagi Mikel Arteta
- Arsenal mendapatkan solusi penting jelang periode penentuan musim
London (pilar.id) – Kai Havertz akhirnya kembali menjadi starter bagi Arsenal setelah menunggu selama hampir satu tahun. Dalam kemenangan 3-2 atas Kairat pada Rabu waktu setempat, gelandang serang asal Jerman itu langsung menunjukkan pengaruh signifikan, meski hanya bermain selama satu babak.
Pertandingan baru berjalan beberapa menit ketika pergerakan tanpa bola Havertz mulai merepotkan pertahanan lawan. Intensitas dan ketajamannya semakin terlihat saat ia mencatat assist untuk gol pembuka Viktor Gyokeres, sebelum mencetak gol sendiri dalam 15 menit awal laga. Penampilan tersebut terasa kontras dengan minimnya menit bermain Havertz sepanjang 2025 akibat cedera hamstring dan masalah lutut yang memaksanya menjalani operasi.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, menilai kehadiran Havertz memberi dampak instan bagi permainan tim. Ia menekankan bahwa pemain berusia 26 tahun itu mampu membawa Arsenal ke level berbeda, terutama dalam membangun serangan yang selama ini kerap menemui kebuntuan.
Mikel ArtetaEfektivitas Havertz terlihat jelas dari penyelesaian akhirnya. Ia hanya melepaskan satu tembakan sepanjang pertandingan, namun peluang tersebut berhasil dikonversi menjadi gol. Situasi ini berbanding terbalik dengan rekan-rekannya di lini depan. Gyokeres, meski mencetak gol pembuka, gagal memaksimalkan sejumlah peluang emas di babak pertama. Sementara Gabriel Jesus, yang masuk sebagai pemain pengganti, juga melewatkan dua kesempatan satu lawan satu dengan kiper.
Kombinasi Havertz dan Gyokeres menjadi sorotan utama. Keduanya saling melengkapi, baik dalam menciptakan ruang maupun membuka peluang. Pergerakan Havertz kerap menarik bek lawan, memberi ruang bagi Gyokeres untuk beroperasi lebih leluasa. Bahkan, Havertz nyaris menambah dua assist lagi andai penyelesaian akhir rekan setimnya lebih maksimal.
Dalam skema permainan, Havertz ditempatkan sebagai gelandang kanan bernomor delapan, peran yang memungkinkannya bermain lebih ofensif dan kerap masuk ke kotak penalti layaknya penyerang kedua. Peran ini memberi variasi yang berbeda dibandingkan pendekatan kreatif Martin Ødegaard di posisi serupa.
Absennya Havertz sepanjang musim diyakini turut memengaruhi adaptasi Gyokeres di Arsenal. Tanpa kehadiran pemain berpengalaman di lini depan, penyerang asal Swedia itu harus memikul beban besar sejak awal musim. Kini, Arsenal memiliki opsi untuk membangun serangan yang lebih seimbang.
Perjalanan karier Havertz di Arsenal sendiri sempat diwarnai keraguan. Setelah didatangkan dari Chelsea, performanya sempat menuai kritik. Namun memasuki musim ketiga, ia justru menjadi figur sentral yang diharapkan mampu merajut kembali efektivitas lini serang The Gunners.
Arteta kini memiliki pertimbangan penting terkait posisi terbaik Havertz, baik sebagai penyerang utama maupun gelandang serang. Fleksibilitas tersebut membuka peluang Arsenal tampil lebih agresif, terutama saat menghadapi tim-tim yang bermain bertahan.
Meski laga terdekat melawan Leeds United kemungkinan masih terlalu cepat bagi Havertz untuk langsung menjadi starter di Liga Inggris, sinyal kebangkitannya sudah terlihat jelas. Jika kondisi fisiknya terjaga, Arsenal diyakini telah menemukan kembali sosok kunci untuk mengarungi fase krusial musim ini. (mad/hdl)

3 hours ago
6

















































